I.
PENGERTIAN
Dari sejumlah fungsi manajemen,
pengawasan merupakan salah satu fungsi yang sangat penting dalam pencapaian
tujuan manajemen itu sendiri. Fungsi manajemen lainnya seperti perencanaan,
pengorganisasian, pelaksanaan tidak akan dapat berjalan dengan baik apabila
fungsi pengawasan ini tidak dilakukan dengan baik. Demikian pula halnya dengan
fungsi evaluasi terhadap pencapaian tujuan manajemen akan berhasil baik apabila
fungsi pengawasan telah di lakukan dengan baik. Dalam kehidupan sehari-hari
baik kalangan masyarakat maupun di lingkungan perusahaan swasta maupun
pemerintahan makna pengawasan ini agaknya tidak terlalu sulit untuk di pahami.
Akan tetapi untuk memberi batasan tentang pengawasan ini masih sulit untuk di
berikan.
Bagi para ahli manajemen, tidak mudah untuk memberikan defenisi tentang
pengawasan, karena masing-masing memberikan defenisi tersendiri sesuai dengan
bidang yang di pelajari oleh ahli tersebut.
Berikut beberapa pendapat ahli
tentang pengertian pengawasan:
1. Kamus Bahasa Indonesia
istilah “Pengawasan berasal dari
kata awas yang artinya memperhatikan baik-baik, dalam arti melihat sesuatu
dengan cermat dan seksama, tidak ada lagi kegiatan kecuali memberi laporan
berdasarkan kenyataan yang sebenarnya dari apa yang di awasi”.
2. HaroldKoonz yang dikutip oleh
JohnSalinderho
Pengawasan adalah Pengukuran dan
pembetulan terhadap kegiatan para bawahan untuk menjamin bahwa apa yang
terlaksana itu cocok dengan rencana. Jadi pengawasan itu mengukur pelaksanaan
dibandingkan dengan cita-cita dan rencana, memperlihatkan dimana ada
penyimpangan yang negatif dan dengan menggerakkan tindakan-tindakan untuk
memperbaiki penyimpangan penyimpangan, membantu menjamin tercapainya
rencana-rencana.
3. Prayudi
Pengawasan adalah suatu proses untuk
menetapkan pekerjaan apa yang di jalankan, dilaksanakan, atau diselenggarakan
itu dengan apa yang dikehendaki, direncanakan atau diperhatikan.
4. Robert JMockler
pengawasan yaitu usaha sistematik
menetapkan standar pelaksanaan dengan tujuan perencanaan, merancang sistem
informasi umpan balik, membandingkan kegiatan nyata dengan standar, menentukan
dan mengukur deviasi-deviasi dan mengambil tindakan koreksi yang menjamin bahwa
semua sumber daya yang dimiliki telah dipergunakan dengan efektif dan efisien.
II.
TAHAP-TAHAP PROSES PENGAWASAN
Tahap Proses Pengawasan :
1.Tahap Penetapan Standar
Tujuannya adalah sebagai sasaran,
kuota, dan target pelaksanaan kegiatan yang digunakan sebagai patokan dalam
pengambilan keputusan. Bentuk standar yang umum yaitu :
-standar phisik
-standar moneter
-standar waktu
2.Tahap Penentuan Pengukuran
Pelaksanaan Kegiatan
Digunakan sebagai dasar atas
pelaksanaan kegiatan yang dilakukan secara tepat.
3. Tahap Pengukuran Pelaksanaan
Kegiatan
Beberapa proses yang berulang-ulang
dan kontinue, yang berupa atas, pengamatan, laporan, metode, pengujian, dan
sampel.
4. Tahap Pembandingan Pelaksanaan
dengan Standar dan Analisa Penyimpangan
Digunakan untuk mengetahui penyebab
terjadinya penyimpangan dan menganalisanya mengapa bisa terjadi demikian, juga digunakan
sebagai alat pengambilan keputusan bagai manajer.
5. Tahap Pengambilan Tindakan
Koreksi
Bila diketahui dalam pelaksanaannya
terjadi penyimpangan, dimana perlu ada perbaikan dalam pelaksanaan.
- Menurut Kadarman (2001, hal. 161) langkah-langkah proses
pengawasan yaitu:
A.Menetapkan Standar
Karena perencanaan merupakan tolak
ukur untuk merancang pengawasan, maka secara logis hal irri berarti bahwa
langkah pertama dalam proses pengawasan adalah menyusun rencana. Perencanaan
yang dimaksud disini adalah menentukan standar.
B.Mengukur Kinerja
Langkah kedua dalam pengawasan
adalah mengukur atau mengevaluasi kinerja yang dicapai terhadap standar yang
telah ditentukan.
C.Memperbaiki Penyimpangan
- Proses pengawasan tidak lengkap jika tidak ada tindakan
perbaikan terhadap penyimpangan-penyimpangan yang terjadi.
Menurut G. R. Terry dalam Sukama
(1992, hal. 116) proses pengawasan terbagi atas 4 tahapan, yaitu:
A. Menentukan standar atau dasar
bagi pengawasan.
B. Mengukur pelaksanaan
C. Membandingkan pelaksanaan dengan
standar dan temukanlah perbedaan jika ada.
D. Memperbaiki penyimpangan dengan
cara-cara tindakan yang tepat.
III.
TIPE-TIPE PENGAWASAN
Ada tiga tipe pengawasan
(controlling), yaitu :
A).Pengawasan pendahuluan(feed
forward control)
Dirancang untuk mengantisipasi
adanya penyimpangan dari standar atau tujuan dan memungkinkan koreksi dibuat
sebelum suatu tahap kegiatan tertentu diselesaikan.
B).Pengawasan yang dilakukan bersama
dengan pelaksanaan kegiatan(concurrent control)
Merupakan proses di mana aspek tertentu
dari suatu prosedur harus disetujui
dulu atau syarat tertentu harus dipenuhi dulu sebelum kegiatan – kegiatan bias dilanjutkan, untuk menjadi semacam peralatan “double check” yang telah
menjamin ketepatan pelaksanaan kegiatan.
dulu atau syarat tertentu harus dipenuhi dulu sebelum kegiatan – kegiatan bias dilanjutkan, untuk menjadi semacam peralatan “double check” yang telah
menjamin ketepatan pelaksanaan kegiatan.
C).Pengawasan umpan balik(feedback
control)
Mengukur hasil-hasil dari suatu
kegiatan yang telah diselesaikan.
IV.
Strategi kontroling untuk sebuah
organisasi
Tahap Proses Pengawasan
Tahap Proses Pengawasan :
a) Tahap
Penetapan Standar Tujuannya
adalah sebagai
sasaran, kuota, dan target pelaksanaan kegiatan yang digunakan sebagai patokan
dalam pengambilan keputusan. Bentuk standar yang umum yaitu :
· standar
phisik
· standar
moneter
· standar
waktu
b) Tahap
Penentuan Pengukuran Pelaksanaan Kegiatan
Digunakan sebagai dasar atas pelaksanaan
kegiatan yang dilakukan secara tepat.
c) Tahap
Pengukuran Pelaksanaan Kegiatan
d) Beberapa
proses yang berulang-ulang dan kontinue, yang berupa atas, pengamatan, laporan,
metode, pengujian, dan sampel.
e) Tahap
Pembandingan Pelaksanaan dengan Standar dan Analisa Penyimpangan
Digunakan untuk
mengetahui penyebab terjadinya penyimpangan dan menganalisanya mengapa bisa
terjadi demikian, juga digunakan sebagai alat pengambilan keputusan bagai
manajer.
f) Tahap
Pengambilan Tindakan Koreksi
Bila diketahui dalam
pelaksanaannya terjadi penyimpangan, dimana perlu ada perbaikan dalam
pelaksanaan.
Menurut Kadarman (2001, hal. 161)
langkah-langkah proses pengawasan yaitu:
Ø Menetapkan
Standar
Karena perencanaan merupakan tolak ukur untuk
merancang pengawasan, maka secara logis hal irri berarti bahwa langkah pertama
dalam proses pengawasan adalah menyusun rencana. Perencanaan yang dimaksud
disini adalah menentukan standar.
Ø Mengukur
Kinerja
Langkah kedua dalam
pengawasan adalah mengukur atau mengevaluasi kinerja yang dicapai terhadap
standar yang telah ditentukan.
Ø Memperbaiki
Penyimpangan
Proses pengawasan
tidak lengkap jika tidak ada tindakan perbaikan terhadap
penyimpangan-penyimpangan yang terjadi.
Menurut G. R. Terry
dalam Sukama (1992, hal. 116) proses pengawasan terbagi atas 4 tahapan, yaitu:
Ø Menentukan
standar atau dasar bagi pengawasan.
Ø Mengukur
pelaksanaan
Ø Membandingkan
pelaksanaan dengan standar dan temukanlah perbedaan jika ada.
Ø Memperbaiki
penyimpangan dengan cara-cara tindakan yang tepat.
Terry (dalam Winardi,
1986:397) bahwa pengawasan terdiri daripada suatu proses yang dibentuk oleh
tiga macam langkah-langkah yang bersifat universal yakni:
Ø mengukur
hasil pekerjaan,
Ø membandingkan
hasil pekerjaan dengan standard dan memastikan perbedaan (apabila ada
perbedaan),
Ø mengoreksi
penyimpangan yang tidak dikehendaki melalui tindakan perbaikan.
Maman Ukas (2004:338)
menyebutkan tiga unsur pokok atau tahapan-tahapan yang selalu terdapat dalam
proses pengawasan, yaitu:
· Ukuran-ukuran
yang menyajikan bentuk-bentuk yang diminta.
Standar ukuran ini
bisa nyata, mungkin juga tidak nyata, umum ataupun khusus, tetapi selama
seorang masih menganggap bahwa hasilnya adalah seperti yang diharapkan.
· Perbandingan
antara hasil yang nyata dengan ukuran tadi.
Evaluasi ini harus
dilaporkan kepada khalayak ramai yang dapat berbuat sesuatu akan hal ini.
· Kegiatan
mengadakan koreksi.
Pengukuran-pengukuran
laporan dalam suatu pengawasan tidak akan berarti tanpa adanya koreksi, jikalau
dalam hal ini diketahui bahwa aktivitas umum tidak mengarah ke hasil-hasil yang
diinginkan.
Dari pendapat diatas
dapat disimpulkan bahwa proses pengawasan dilakukan berdasarkan beberapa
tahapan yang harus dilakukan.
· Menetapkan
standar pelaksanaan (perencanaan)
Sehingga dalam melakukan pengawasan manajer
mempunyai standard yang jelas.
· Penentuan
pengukuran pelaksanaan kegiatan
Mengukur kinerja pegawai, sejauh mana pegawai dapat menerapkan perencanaan yang telah dibuat atau ditetapkan perusahaan sehingga perusahaan dapat mencapai tujuannya secara optimal.
Mengukur kinerja pegawai, sejauh mana pegawai dapat menerapkan perencanaan yang telah dibuat atau ditetapkan perusahaan sehingga perusahaan dapat mencapai tujuannya secara optimal.
· Pembandingan
pelaksanaan kegiatan dengan standard dan penganalisa penyimpangan-penyimpangan
· Pengambilan
tindakan koreksi
Melakukan perbaikan jika ditemukan penyimpangan¬-penyimpangan yang terjadi.
Melakukan perbaikan jika ditemukan penyimpangan¬-penyimpangan yang terjadi.
B.
KEKUASAAN DAN PENGARUH
I.
Deinisi Kekuasaan
Kekuasaan
adalah kewenangan yang didapatkan oleh seseorang atau kelompok guna menjalankan
kewenangan tersebut sesuai dengan kewenangan yang diberikan, kewenangan tidak
boleh dijalankan melebihi kewenangan yang diperoleh[1]
[2]
atau kemampuan seseorang atau kelompok untuk memengaruhi tingkah laku orang
atau kelompok lain sesuai dengan keinginan dari pelaku (Miriam Budiardjo,2002)
atau Kekuasaan merupakan kemampuan memengaruhi
pihak lain untuk berpikir dan
berperilaku sesuai dengan kehendak yang memengaruhi (Ramlan Surbakti,1992).
Pengertian kekuasaan secara umum
adalah ‘’kemampuan pelaku untuk mempengaruhi tingkah laku pelaku lain
sedemikian rupa, sehingga tingkah laku pelaku terakhir menjadi sesuai dengan
keinginan dari pelaku yang mempunyai kekuasaan’’ (Harold D. Laswell, 1984:9).
Sejalan dengan itu, dinyatakan Robert A. Dahl (1978:29) bahwa ‘’kekuasaan
merujuk pada adanya kemampuan untuk mempengaruhi dari seseorang kepada orang
lain, atau dari satu pihak kepada pihak lain’’.Contohnya Presiden, ia membuat
UU (subyek dari kekuasaan) tetapi juga harus tunduk pada UU (objek dari
kekuasaan)
Konsepsi mengenai sumber
kekuasaan yang telah diterima secara luas adalah dikotomi antara “position
power” (kekuasaan karena kedudukan) dan “personal power” (kekuasaan pribadi).
Menurut konsep tersebut, kekuasaan sebagian diperoleh dari peluang yang melekat
pada posisi seseorang dalam organisasi dan sebagian lagi disebabkan oleh
atribut-atribut pemimpin tersebut serta dari hubungan pemimpin – pengikut.
Termasuk dalam position power adalah kewenangan formal, kontrol terhadap sumber
daya dan imbalan, kontrol terhadap hukuman, kontrol terhadap informasi, kontrol
ekologis. Sedangkan personal power
berasal dari keahlian dalam tugas, persahabatan, kesetiaan, kemampuan persuasif
dan karismatik dari seorang pemimpin (Gary Yukl,1996:167-175). Dengan bahasa
yang sedikit berbeda, Kartini Kartono (1994:140) mengungkapkan bahwa sumber
kekuasaan seorang pemimpin dapat berasal dari
Kemampuannya untuk mempengaruhi
orang lain;
Sifat dan sikapnya yang unggul, sehingga
mempunyai kewibawaan terhadap pengikutnya;
Memiliki informasi, pengetahuan, dan pengalaman
yang luas;
Memiliki kemahiran human relation yang baik,
kepandaian bergaul dan berkomunikasi.
Kekuasaan merupakan kondisi dinamis yang dapat
berubah sesuai perubahan kondisi dan tindakan-tindakan individu atau kelompok.
Ada dua teori yang dapat menjelaskan bagaimana kekuasaan diperoleh,
dipertahankan atau hilang dalam organisasi. Teori tersebut adalah
*
Social Exchange Theory, menjelaskan bagaimana kekuasaan diperoleh dan hilang
selagi proses mempengaruhi yang timbal balik terjadi selama beberapa waktu
antara pemimpin dan pengikut. Fokus dari teori ini mengenai expert power dan
kewenangan.
*
Strategic Contingencies Theory, menjelaskan bahwa kekuasaan dari suatu subunit
organisasi tergantung pada faktor keahlian dalam menangani masalah penting,
sentralisasi unit kerja dalam arus kerja, dan tingkat keahlian dari subunit
tersebut.
II. Sumber – Sumber Kekuasaan
Kekuasaan
tidak begitu saja diperoleh individu, ada 5 sumber kekuasaan menurut John
Brench dan Bertram Raven, yaitu :
1. Kekuasaan menghargai (reward power)
Kekuasaan yang didasarkan pada kemampuan seseorang pemberi pengaruh untuk memberi penghargaan pada orang lain yang dipengaruhi untuk melaksanakan perintah. (bonus sampai senioritas atau persahabatan)
2. Kekuasaan memaksa (coercive power)
Kekuasaan berdasarkan pada kemampuan orang untuk menghukum orang yang dipengaruhi kalau tidak memenuhi perintah atau persyaratan. (teguran sampai hukuman).
3. Kekuasaan sah (legitimate power)
Kekuasaan formal yang diperoleh berdasarkan hukum atau aturan yang timbul dari pengakuan seseorang yang dipengaruhi bahwa pemberi pengaruh berhak menggunakan pengaruh sampai pada batas tertentu.
4. Kekuasaan keahlian (expert power)
Kekuasaan yang didasarkan pada persepsi atau keyakinan bahwa pemberi pengaruh mempunyai keahlian relevan atau pengetahuan khusus yang tidak dimiliki oleh orang yang dipengaruhi. (professional atau tenaga ahli).
5. Kekuasaan rujukan (referent power)
Kekuasaan yang dimiliki oleh seseorang atau kelompok yang didasarkan pada indentifikasi pemberi pengaruh yang menjadi contoh atau panutan bagi yang dipengaruhi. (karisma, keberanian, simpatik dan lain-lain).
1. Kekuasaan menghargai (reward power)
Kekuasaan yang didasarkan pada kemampuan seseorang pemberi pengaruh untuk memberi penghargaan pada orang lain yang dipengaruhi untuk melaksanakan perintah. (bonus sampai senioritas atau persahabatan)
2. Kekuasaan memaksa (coercive power)
Kekuasaan berdasarkan pada kemampuan orang untuk menghukum orang yang dipengaruhi kalau tidak memenuhi perintah atau persyaratan. (teguran sampai hukuman).
3. Kekuasaan sah (legitimate power)
Kekuasaan formal yang diperoleh berdasarkan hukum atau aturan yang timbul dari pengakuan seseorang yang dipengaruhi bahwa pemberi pengaruh berhak menggunakan pengaruh sampai pada batas tertentu.
4. Kekuasaan keahlian (expert power)
Kekuasaan yang didasarkan pada persepsi atau keyakinan bahwa pemberi pengaruh mempunyai keahlian relevan atau pengetahuan khusus yang tidak dimiliki oleh orang yang dipengaruhi. (professional atau tenaga ahli).
5. Kekuasaan rujukan (referent power)
Kekuasaan yang dimiliki oleh seseorang atau kelompok yang didasarkan pada indentifikasi pemberi pengaruh yang menjadi contoh atau panutan bagi yang dipengaruhi. (karisma, keberanian, simpatik dan lain-lain).
III.
Definisi Pengaruh
Sebagai
esensi dari kepemimpinan, pengaruh diperlukan untuk menyampaikan gagasan,
mendapatkan penerimaan dari kebijakan atau rencana dan untuk memotivasi orang
lain agar mendukung dan melaksanakan berbagai keputusan.
Jika
kekuasaan merupakan kapasitas untuk menjalankan pengaruh, maka cara kekuasaan
itu dilaksanakan berkaitan dengan perilaku mempengaruhi. Oleh karena itu, cara
kekuasaan itu dijalankan dalam berbagai bentuk perilaku mempengaruhi dan
proses-proses mempengaruhi yang timbal balik antara pemimpin dan
pengikut, juga akan menentukan efektivitas
kepemimpinan.
Menurut para ahli ;
a) Menurut
Wiryanto
Pengaruh merupakan tokoh formal
mauoun informal di dalam masyarakat, mempunyai ciri lebih kosmopolitan,
inovatif, kompeten, dan aksesibel dibanding pihak yang dipengaruhi
b) Menurut
Norman Barry
Pengaruh adalah suatu tipe kekuasaan
yang jika seorang yang dipengaruhi agar bertindak dengan cara tertentu, dapat
dikatakan terdorong untuk bertindak demikian, sekalipun ancaman sanksi yang
terbuka tidak merupakan motivasi yang mendorongnya
c) Menurut
Uwe Becker
Pengaruh adalah kemampuan yang terus
berkembang yang – berbeda dengan kekuasaan – tidak begitu terkait dengan usaha
memperjuangkan dan memaksakan kepentingan
d) Menurut
Robert Dahl
A mempunyai pengaruh atas B sejauh
ia dapat menyebabkan B untuk berbuat sesuatu yang sebenarnya tidak akan B
lakukan
IV. Pengaruh Taktik Organisasi
Taktik-taktik mempengaruhi
(Influence Tactics) adalah cara-cara yang biasanya digunakan oleh seseorang
untuk mempen-garuhi orang lain, baik orang yang merupakan atasan, setingkat,
atau bawahannya. Dengan mengetahui dan menggunakan hal ini, maka seseorang
dapat mempengaruhi orang lain, dengan tidak menggunakan kekuasaan yang
dimilikinya.
Kipnis dan Schmidt adalah peneliti
yang pertama kali meneliti taktik-taktik yang biasa digunakan orang untuk
mempengaruhi orang lain. (Kipnis dan Schmidt, 1982). Berbagai alat ukur telah
dibuat untuk meneliti taktik mempengaruhi, dan salah satu yang terbaik adalah
yang dibuat oleh Yukl dkk, yaitu yang disebut Influence Behavior Questionnaire
(Yukl, Lepsinger, and Lucia, 1992). Hasil penelitian Yukl dkk, menun-jukkan ada
sembilan jenis taktik yang biasa digunakan di dalam organisasi (Hugheset all,
2009), yaitu:
a) Persuasi
Rasional (Rational Persuasion), terjadi jika seseorang mempengaruhi orang lain
dengan menggunakan alasan yang logis dan bukti-bukti nyata agar orang lain
tertarik.
b) Daya-tarik
Inspirasional (Inspirational Appeals), terjadi jika seseorang mempengaruhi
orang lain dengan menggunakan suatu permintaan atau proposal untuk
membangkitkan antusiasme atau gairah pada orang lain.
c) Konsultasi
(Consultation), terjadi jika seseorang mempengaruhi orang lain dengan mengajak
dan melibatkan orang yang dijadikan target untuk berpartisipasi dalam pembuatan
suatu rencana yang akan dilaksanakan.
d) Mengucapkan kata-kata
manis (Ingratiation), terjadi jika seseorang mempengaruhi orang lain dengan
menggunakan kata-kata yang membahagiakan.
e) Daya-tarik Pribadi
(Personal Appeals), terjadi jika seseorang mempengaruhi orang lain atau
memintanya untuk melakukan sesuatu karena merupakan teman atau karena dianggap
loyal.
f) Pertukaran
(Exchange), terjadi jika seseorang mempengaruhi orang lain dengan memberikan
sesuatu keuntungan tertentu kepada orang yang dijadikan target, sebagai imbalan
atas kemauannya mengikuti suatu permintaan tertentu.
g) Koalisi
(Coalitions), terjadi jika seseorang meminta bantuan dan dukungan dari orang
lain untuk membujuk agar orang yang dijadikan target setuju.
h) Tekanan (Pressure), terjadi
jika seseorang mempengaruhi orang lain dengan menggunakan ancaman, peringatan,
atau permintaan yang berulang-ulang dalam meminta sesuatu.
i)
Mengesahkan (Legitimacy), terjadi jika seseorang mempengaruhi orang lain dengan
menggunakan jabatannya, kekuasaannya, atau dengan mengatakan bahwa suatu permintaan
adalah sesuai dengan kebijakan atau aturan organisasi.
V.
Contoh kasus
Contoh Kasus:
Ketika saya menjadi ketua dalam suatu
komunitas organisasi. Didalam komunitas itu mempunyai banyak peraturan yang
harus dipatuhi oleh setiap individu-individu yang ada. Salah satu contoh
peraturannya adalah:
"Saya memerintahkan kepada
anggota-anggota yang tergabung didalam komunitas saya untuk selalu berkumpul di
tempat yang telah ditentukan dalam satu minggu sekali. Peraturan ini wajib
dijalankan walaupun saya mengetahui mereka mempunyai acara atau kegiatan, Tetapi
saya tidak peduli hal itu karena disini saya sebagai ketua komunitas organisasi
berhak dan berkuasa membuat peraturan."
Pada dasarnya organisasi
mempunyai sifat berusaha memenuhi beberapa
jenjang keteraturan tertentu sehingga dapat bertahan dan
mencapai tujuannya. Ini berarti organisasi harus dapat mengajak anggotanya
bersikap dengan cara-cara yang bermanfaat bagi organisasi. Ini dapat meliputi suatu
keteraturan (order) yang dirundingkan, tetapi pengaturan
manusialah yang melibatkan pelaksanaan kekuasaan.
KONSEP KEKUASAAN DAN ORGANISASI
Klasifikasi Kekuasaan
Ada lima kategori sumber kekuasaan sosial yang
diidentifikasi oleh psikolog John French dan Bertram Raven diantaranya:
Kekuasaan Penghargaan (Reward Power)
Sumber kekuasaan ini didasarkan pada kemampuan
orang untuk mengontrol sumber daya dan memberi penghargaan kepada orang lain.
Selain itu, orang yang diberdayakan harus menghargai jenis penghargaan ini.
Dalam konteks organisasi, manajer harus mempunyai penhargaan potensial, seperti
peningkatan gaji, promosi, informasi berharga, umpan balik, dan penghargaan
lain yang tersedia untuk mereka. Dalam konteks pembelajaran operant, hal ini
berarti, manajer mempunyai kekuasaan untuk melaksanakan dorongan yang positif dalam
konteks motivasi harapan, hal ini berarti orang yang mempunyai kekuasaan untuk
menyediakan valensi positif dan orang lain menilai kemampuan tersebut.
Kekuasaan Koersif (Coersive Power)
Sumber kekuasaan ini tergantung pada
ketakutan. Orang dengan kekuasaan koersif mempunyai kemampuan untuk menimbulkan
konsekuensi hukuman atau aversif pada orang lain, atau paling tidak melakukan
apa yang diyakini orang lain akan menghasilkan hukuman atau hasil yang
tidak diinginkan. Dalam konteks organisasi, manajer sering mempunyai kekuasaan
koersif dimana mereka dapat memecat atau menurunkan orang yang bekerja pada
mereka, atau memotong gaji mereka.
Kekuasaan Legitimasi (Legimate
Power)
Kakuasaan legitimasi hampir serupa dengan
otoritas dan berhubungan dekat dengan kekuasaan penghargaan dan koersif karena
orang dengan legitimasi juga berada dalam posisi memberi penghargaan dan
menghukum. Perbedaannya, kekuasaan legitimasi tidak bergantung pada hubungan
dengan orang lain, tetapi lebih kepada posisi atau peranan yang dimiliki
seseorang. Misalnya, orang memperoleh legitimasi dikarenakan gelar mereka
(kapten atau wakil presiden eksekutif) atau posisi (tertua dalam keluarga atau
pegawai dalam perusahaan) daripada kepribadian mereka atau bagaimana mereka
memengaruhi orang lain. Kekuasaan legitimasi berasal dari tiga sumber utama:
·
Nilai budaya yang kuat
dan masyarakat, organisasi, atau kelompok menentukan apa itu legitimasi. Dalam
konteks organisasi, manajer umunya mempunyai kekuasaan legitimasi karena
karyawan meyakini nilai hukum property pribadi dan dalam hierarki dimana posisi
lebih tinggi ditunjukkan dengan kekuasaan lebih pada orang yang posisinya lebih
rendah.
·
Orang dapat memperoleh
kekuasaan legitimasi dari struktur social yang diterima.
·
Kekuasaan legitimasi muncul
dari tujuan sebagai agen, representatif, atau kelompok berkuasa. Karyawan yang
dipilih, pimpinan komisi dan anggota dewan direksi dari perusahaan atau serikat
kerja atau komisi manajeman merupakan contoh dari bentuk kekuasaan legitimasi.
Kekuasaan Referen (Referent Power)
Jenis kekuasaan ini berasal dari hasrat
sebagian orang untuk dikenal agen yang memegang kekuasaan. Mereka ingin dikenal
tanpa memerdulikan hasil. Orang memberi kekuasaan karena mereka menarik
dan mempunyai sumber daya atau karakteristik kepribadian yang diinginkan. Orang
periklanan mengambil keuntungan dari jenis kekuasaan ini saat mereka memakai
selebritis, seperti bintang film atau tokoh olah raga untuk memberikan
kesaksian mengenai suatu produk. Orang awam yang membeli produk tersebut
mengenal model iklan dan mempunyai kekuasaan untuk menginformasikan produk apa
yang akan dibeli.
Dalam konteks organisasi, kekuasaan referen
jauh berbeda dari jenis kekuasaan lain. Misalnya, manajer dengan kekuasaan
referen harus menarik bagi karyawan mereka sehingga karyawan mau mengenal
manajer tanpa memedulikan apakah manajer mempunyai kemampuan untuk memberi
penghargaan atau hukuman atau apakah mereka mempunyai legitimasi.
Kekuasaan Keahlian (Expert Power)
Didasarkan pada seberapa orang mempunyai
atribut pengetahuan dan keahlian untuk memegang kekuasaan. Contoh, pelatih
sepak bola yang terkenal memberikan nasihat pada beberapa pemain muda, pelatih
tersebut akan didengarkan karena dia memiliki kekuasaan keahlian dan
pengetahuan dalam bidang sepak bola. Dalam organisasi, staf spesialis
mempunyai kekuasaan keahlian dalam area fungsional mereka, tetapi tidak diluar
area tersebut. Misalnya, insinyur diberikan kekuasaan keahlian dalam masalah
produksi, tetapi tidak dalam masalah personalia atau humas.
Kemampuan memengaruhi target kekuasaan
Hubungan kekuasaan dapat dipahami dengan lebih
baik dengan memeriksa beberapa kerakteristik target. Berikut beberapa
karakteristik yang dinilai penting untuk kemampuan target untuk dapat
memengaruhinya.
·
Dependensi. Semakin besar
dependesi target dalam hubungannya dengan agen (misalnya, saat target tidak
dapat membebaskan diri dari hubungan, tidak menilai adanya alternatif,
atau menilai penghargaan agen sebagai keunikan), semakin banyak target yang
dipengaruhi.
·
Ketidakpastian. Eksperimen menunjukkan
bahwa semakin tidak pasti seseorang mengenai perilaku yang benar atau pantas,
semakin mereka terpengaruh untuk mengubah perilaku tersebut.
·
Kepribadian. Kepribadian juga
memengaruhi bagaimana seseorang memperoleh dan menjalankan kekusaaan itu
sendiri. Kepribadian yang baik akan sangat menunjang tampilan seseorang dimata
orang lain dalam organisasi.
·
Intelegensi. Tidak ada
hubungan yang sederhana antara intelegensi dan kemampuan memengaruhi.
Contohnya, orang yang berintelegensi tinggi mungkin bisa mendengarkan, tetapi
karena mereka juga memiliki penghargaan diri yang tinggi, mereka tidak mudah
dipengaruhi.
·
Gender. Seiring dengan
pandangan perempuan dan masyrakat mengenai perubahan peran perempuan, kemampuan
memengaruhi yang dibedakan karena gender semakin berkurang.
·
Umur. Psikolog social
secara umum menyimpulkan bahwa kemampuan untuk bertahan terhadap pengaruh
meningkat pada anak-anak usia delapan atau Sembilan tahun kemudian menurun pada
usia remaja. Pada saat itu level berhenti.
·
Budaya. Nilai-nilai
budaya dalam masyarakat jelas mempunyai pengaruh yang luar biasa terhadap
anggotanya. Misalnya budaya barat menekankan individualitas, perbedaan pendapat
dan keberagaman yang cenderung menurunkan kemampuan memengaruhi sedangkan di
Asia menekankan kohesivitas, kesepatan, dan keberagaman, yang akan semakin
meningkatkan kemampuan memengaruhi.
PEMBERDAYAAN ORGANISASI
Perberdayaan adalah mengakui dan menggali
untuk kepentingan organisasi, kekuasaan yang ada pada seseorang oleh karena
pengetahuan mereka yang berguna dan motivasi internal di dalam diri mereka.
Pemberdayaan adalah otoritas dalam membuat keputusan di area tanggung jawab
seseorang tanpa meminta persetujuan orang lain.
Program pemberdayaan bisa mentransformasi
organisasi yang beku menjadi organisasi yang hidup dengan menciptakan
“pembagian tujuan antarkaryawan, mendukung kolaborasi yang bagus dan
menyampaikan nilai-nilai yang baik kepada pelanggan”. Dengan demikian,
organisasi harus bisa mengatasi penghalang-penghalang tertentu, seperti
ketidaksabaran, kontradiksi antara penghargaan dan model perilaku. Agar ini
bisa terjadi, pemberdayaan harus tertanam dalam nilai-nilai budaya organisasi
yang dioperasionalisasikan melalui partisipasi, inovasi, akses ke informasi,
dan akuntabilitas.
Implikasi dan akses Informasi
Pemberdayaan membawa inovasi karena karyawan
mempunyai otoritas untuk mencoba ide baru dan membuat keputusan yang
menghasilkan sebuah cara baru untuk melakukan banyak hal. Ketika karyawan
diberi akses informas sebagai bagian vital dalam pemberdayaan, mereka lebih
bersedia bekerja sama. Dengan nilai budaya “open book” dan teknologi
intranet, karyawan diberi wewenang memiliki semua informasi dan pengetahuan
organisasi yang tersedia untuk melaksanakan tugas seefektif mungkin.
Akuntabilitas dan tanggung jawab
Meskipun karyawan diberdayakan untuk membuat
keputusan yang mereka percayai sehingga memberi keuntungan untuk organisasi,
hasilnya juga harus dapat diandalkan dan bertanggung jawab. Pertanggungjawaban
ini bukan untuk menghukum suatu kesalahan atau menghasilkan sesuatu yang segera
dapat dilihat atau hasil jangka pendek. Namun, tujuannya adalah untuk
memastikan bahwa mereka melakukan usaha terbaik mereka, bekerja berdasarkan
tujuan yang telah ditetapkan dan melakukan tanggung jawab satu sama lain.
Pemberdayaan karyawan akan menaikkan tingkat kepercayaan dalam organisasi,
karyawan yang diberdaya akan merasa bahwa “kita bersama-sama berada
didalamnya.” Dan sikap mereka menjadi penuh tanggung jawab.
Dinamika Komunikasi Organisasi
Gagasan komunikasi mula-mula
(tradisional) adalah melihat komunikasi sebagai
alat atau transmisi. Komunikasi meniik beratkan
pada gagasan pengiriman, penyebaran, dan
pemberian informasi kepada orang lain untuk
tujuan mengendalikan. Ada gagasan lain yang mengemukakan bahwa komunikasi
bukan hanya alat tetapi sebagai sarana
pikiran yaitu komunikasi dipakai untuk maksud
tertentu seperi memberi instruksi, membujuk atau memperoleh kekuasaan. Dua
gagasan yang berbeda tersebut pening untuk
mengantarkan pemahaman tentang komunikasi organisasi
dan kekuasaan.
Yang pertama komunikasi
dipandang sebagai mekanisme kekuasaan, dalam konteks
organisasi komunikasi digunakan untuk menentukan tujuan,
norma dan perilaku organisasi. organisasi dapat dipandang
sebagai suatu sarana kekuasaan. Manusia memiliki kekuasaan, melaksanakannya
melalui komunikasi dan menciptakan tindakan yang terorganisir.
Hal kedua komunikasi dipandang sebagai
kekuasaan karena kemampuannya untuk menentukan hasil, pengetahuan, keyakinan,
dan tindakan. Manusia bertindak berdasarkan informasi yang ada serta pilihan
atau alternaif yang disediakan oleh informasi tersebut.
Kekuasaan digunakan melalui alternaif yang disediakan dan cara alternatif
tersebut diberikan. Sebagai contoh misalnya organisasi
memberikan kesempatan anggotanya membuat keputusan tetapi tidak bebas sama
sekali melainkan memberikan pedoman atau kriteria yang harus dipenuhi dalam
setiap pengambilan keputusan tersebut.
KEKUASAAN, KOMUNIKASI,
DAN PEMBERDAYAAN
Bagian penting pemberdayaan adalah pengenalan kondisi-kondisi yang
membangkitkan perasaan tidak berdaya. Dalam organisasi, manusia merasa tidak
berdaya bila mereka tidak memiliki akses kepada
informasi yang mempengaruhi pekerjaan dan kesejahteraan mereka. Konsep
pemberian kekuasaan atau pemberdayaan (empowerment) memiliki
beberapa dimensi. Conger dan Kanungo menyatakan bahwa pemberdayaan dapat
ditinjau dari aspek relasional dan motivasional.
1.
Aspek relasional
menegaskan kepada masalah pembagian kekuasaan antara manager dan bawahan. Ada
usaha untuk melonggarkan hirarki dan menekankan pemecahan masalah bersama-sama.
2.
Aspek motivasional merujuk pada
kebutuhan hakiki pada suatu keyakinan
dan kemampuan pribadi. Melalui teknik ini, pegawai
merasa memiliki kekuasaan. Jadi memberdayakan dalam arti motivasional di sini
adalah mempercayai kemampuan setiap orang yang mencakup kebutuhan dan hak
setiap orang untuk merasakan bahwa dirinya mampu berprestasi dan efekif. Untuk
hal seperti ini ada resikonya yaitu kesalahan mungkin saja terjadi tetapi
apabila mereka mampu mengatasi perasaan percaya atas kemampuan dirinya akan
semakin kuat.
Diberdayakan dalam organisasi berarti
mengetahui argumentasi yang diterima serta cara-cara yang diterima
untuk menggunakanya. Dalam hal ini, berarti kita tidak dapat lepas dari praktek
komunikasi dalam organisasi meskipun dalam hal ini praktek komunikasi sering
diabaikan. Hal yang tidak kalah pentingnya dalam bahasan pemberdayaan adalah masalah
pengenalan kondisi yang membangkitkan perasaan tidak berdaya.
Dalam organisasi manusia akan merasa tidak berdaya apabila mereka
tidak memiliki akses terhadap informasi yang mempengaruhi
pekerjaan dan kesejahteraan mereka. Sebagai contoh struktur
birokrasi memiliki kondisi yang mengarah pada rasa tidak
berdaya. Ambiguitas peranan, harapan terhadap peranan yang berlebihan serta
konflik juga merupakan faktor konstektual yang dapat menciptakan
ketidakberdayaan. Oleh karena itu pemberdayaan adalah memberikan kesempatan
pada pegawai yang memungkinkan pegawai menggunakan kemampuannya, disamping itu
iklim komunikasi yang aman, terbuka dan masuk akal harus diciptakan. Kondisi
yang memungkinkan manusia mengetahui peran mereka apakah pentingnya peranan tersebut
bagi organisasi secara keseluruhan serta memungkinkan keterlibatan bersama
terhadap hasil merupakan cerminan lingkungan yang melaksanakan
pemberdayaan.
Dalam hal komunikasi dan pelaksanan kekuasaan kita tidak perlu melihat
kekuasaan selalu dalam arti negatif. Kekuasaan itu positif dalam arti bahwa ia
dapat menyebabkan tujuan tercapai dan masalah terselesaikan. Kanter memandang
bahwa kekuasaan tidak sebagai dominasi hirarkis melainkan sebagai kemampuan
untuk menyelesaikan sesuatu organisasi harus mencerminkan penggunaan kekuasaan
yang bijaksana. Komunikasi dalam suatu organisasi harus mencerminkan penggunaan
kekuasaan yang bijaksana. Mempertahankan kekuasaan mungkin bergantung
pada pengetahuan kapan untuk menggunakan kekuasaan itu. Kekuasaan yang
dilaksanakan secara bijaksana mungkin sama sekali tidak digunakan. Misalnya,
seorang pimpinan mendelegasikan otoritas kepada bawahannya untuk
melakukan suatu tugas, komunikasi harus mendukung, yaitu pimpinan
setidaknya memberi memo, atau merinci tugas yang harus dikerjakan.
Komunikasi dengan menempatkan posisi manusia
lebih rendah adalah suatu wujud pelaksanaan kekuasaan. Ini mengisyaratkan
suatu hubungan yang memaksakan dominasi tanpa sepengetahuan orang yang
melakukannya, dan mungkin tidak selalu disadari oleh orang tersebut.
Organisasi yang mendambakan inovasi, perubahan, dan andil maksimal daripada
anggotanya akan menjalankan komunikasi yang memberdayakan semua anggotanya.
Kekuasaan dapat menjadi kekuatan positif bila dibagikan, dikembangkan pada
orang lain, dan digunakan secara bijaksana, yakni memperbolehkan pendapat
yang beraneka ragam, menumbuhkan kemampuan diri, saran-saran, dan
menjamin kondisi yang memberi kesempatan untuk saling mempengaruhi.
SUMBER:
Sinaulan Jeffry H. Pengantar Bisnis. Diktat Kuliah.
Jakarta:Universitas Tama Jagakarsa;2009.
T. Hani Handoko.
Manajemen. Edisi Kedua. Yogyakarta: BPFE ; 2003.
Terry George R, Leslie W. Rue. Principles of Management (
terjemahan ).Jakarta: Bumi Aksara;2001.
Tangkilisan, Drs.Hessel Nogi S.
(2005). Manajemen Publik. Jakarta: PT. Grasindo.
Luthans, Fred. 2006. Perilaku Organisasi. Yogyakarta: Penerbit Andi.
http://bloggerukri.blogspot.co.id/2012/10/pengawasan-controlling.html