Minggu, 08 Oktober 2017

Tugas Softskill 1

Rabu, 14 Juni 2017

REVIEW MOVIE ANGER MANAGEMENT


Nama : Putri Nurul Hasanah (18514619)
            Riska Hidayah (19514492)
            Zenia Zuraini Fatnie Pakaya (1C514665)


Anger Management


Kali ini kelompok kami akan me-review sebuah film psikologi yang berjudul  anger management. sebelum saya membahas tentang film tersebut, ada baiknya reader (sebutan untuk yang membaca blog ini) mengetahui tujuan dari review film tersebut.

1.  agar mengetahui masalah psikologis yang terjadi dalam cerita tsb.
2.  terapi apa saja yang bisa dilakukan hasil apa yang bisa di terima dari terapi tsb
3.  teknik yang digunakan.

selamat membaca :)


Review Film
bercerita tentang kehidupan seorang pria pemalu bernama Dave Buznik (Adam Sandler). Dave bekerja sebagai seorang asisten eksekutif. Semasa kecil Dave adalah orang yang tidak bisa marah ketika dirinya sedang di olok – olok oleh teman – temannya. Sifat yang dimilikinya tersebut tidaklah berubah ketika ia beranjak dewasa. Suatu ketika ia beranjak dewasa, ia tinggal di New York dan bekerja sebagai seorang sekretaris. Ia kini bekerja dibawah tekanan bosnya bernama Frank yang sangat kasar. Namun Dave selalu menerima kekerasan dari Frank karena ia tidak bisa mengungkapkan kemarahannya secara langsung. Sampai suatu saat sang kekasih bernama Linda merencanakan untuk memasukkan Dave pada suatu kelompok dalam hal pengendalian emosi bersama dokter Buddy (Jack Nicholson). Rencana Linda tersebut tanpa sepengetahuan Dave. Linda pun bekerjasama dengan dokter Buddy supaya Dave dapat terlibat dalam permainan yang mereka rencanakan tersebut.
Rencana dimulai dengan melakukan sebuah penerbangan untuk pertemuan bisnis. Tanpa disengaja Dave duduk bersebelahan dengan seseorang yang bernama Buddy Rydell. Selama dipenerbangan tersebut Buddy terus mencoba mengganggu Dave tersebut dengan suara ketawa yang begitu keras. Dave pun menjadi marah ketika seorang pramugari mengacuhkan dirinya yang meminta bantuan kepada pramugari tersebut. Hal tersebut membuat Dave harus dibawa ke pengadilan dan pengadilan tersebut memutuskan supaya Dave mengikuti kelas dokter Buddy terkait pengendalian emosi. Banyak sekali permasalahan yang dihadapi Dave selama mengikuti kelasnya dokter Buddy tersebut mulai dari Dave akan dimasukkan ke penjara sampai diikuti oleh dokter Buddy ke kantornya.
Suatu hari Dave dan dokter Buddy pergi ke Boston dan disana Dave dipertemukan dengan seorang gadis cantik. Dokter Buddy pun menantang Dave untuk mendekati gadis tersebut. Dave pun menerima tantangan tersebut dan berhasil ia membuat gadis itu membawa dirinya ke rumahnya. Tapi ketika wanita tersebut berusaha menggoda Dave, Dave tetap setia dengan Linda. Sepulangnya dari Boston dokter Buddy menemui Arnie temen semasa kecil Dave yang selalu mempermalukan Dave. Disana Dave pun berhasil membalaskan dendam semasa kecilnya.

1.  agar mengetahui masalah psikologis yang terjadi dalam cerita tsb.
Dave Buznik (Adam Sandler) adalah pria pemalu, yaang Semasa kecilnya adalah orang yang tidak bisa marah ketika dirinya sedang di olok – olok dan ketika sudah bekerja, dave selalu menerima kekerasan dari Frank (bosnya) karena ia tidak bisa mengungkapkan kemarahannya secara langsung. 
lalu suatu ketika Dave pun menjadi marah ketika seorang pramugari mengacuhkan dirinya yang meminta bantuan kepada pramugari tersebut. Hal tersebut membuat Dave harus dibawa ke pengadilan dan pengadilan tersebut memutuskan supaya Dave mengikuti kelas dokter Buddy terkait pengendalian emosi. Banyak sekali permasalahan yang dihadapi Dave selama mengikuti kelasnya dokter Buddy

2.  terapi apa saja yang bisa dilakukan hasil apa yang bisa di terima dari terapi tsb
Ada beberapa terapi yang dapat digunakan sebagai salah satu teknik untuk mengelola emosi seseorang, yaitu:
a) Cognitive Therapy

Terapi kognitif adalah pendekatan pemberian bantuan yang bertujuan mengubah suasana hati (mood) dan perilaku dengan mempengaruhi pola berpikirnya. Bentuk dari terapi kognitif berupa catatan harian pemikiran disfungsional. Pada dasarnya terapi kognitif bertujuan untuk:
ü Mengenali kejadian yang menyebabkan reaksi yang berupa amarah.
ü Mengenali dan memonitor distorsi-distorsi kognitif yang muncul dalam suatu peristiwa atau kejadian. Kemudian berusaha mencari kebenarannya, yaitu dengan cara mencari hubungan antara kognisi dan afeksi.
ü Mengubah cara berpikir dalam menginterpretasi dan mengevaluasi suatu kejadian dengan cara-cara yang lebih sehat.
Distorsi kognitif bersifat otomatis dan tidak disadari, maka dalam terapi kognitif seseorang diajak untuk mengevaluasi kembali cara berpikirnya dalam menginterpretasi dan mengevaluasi suatu kejadian. Jadi seseorang dilatih untuk mengenali dan menguji apakah cara berpikirnya terhadap suatu kejadian benar dan realistis. Ada beberapa bentuk distorsi kognitif yang biasanya dialami oleh individu, yaitu:
ü Over generalization (terlalu menggeneralisasi)
Mengambil kesimpulan umum dari satu atau sedikit kejadian. Kesimpulan ini kemudian diterapkan secara luas pada kondisi yang sama atau tidak sama. Contoh: seorang suami yang memanggil istrinya untuk membawakan obat dari lantai bawah ke lantai atas tetapi tidak dijawab. Lalu ia mengambil kesimpulan bahwa istrinya tidak mempedulikan dia lagi.
ü Pembesaran (magnification)
Melebih-lebihkan arti atau pentingnya sesuatu hal. Biasanya terjadi bila melihat kesalahan diri sendiri atau kesalahan orang lain. Contoh: suatu kali ada seseorang yang melupakan janjinya, lalu temannya menganggap bahwa ia telah melakukan suatu kesalahan besar yang tidak dapat dimaafkan.
ü In Exact Labeling (memberi cap secara keliru)
Memberi cap pribadi atau menciptakan suatu gambaran diri yang negatif dan didasarkan pada kesalahan diri sendiri. Ini merupakan suatu bentuk ekstrem dari overgeneralisasi.
ü Pernyataan Harus
Mencoba menggerakkan diri sendiri atau orang lain dengan pernyataan “harus” serta “seharusnya tidak”, seolah-olah diri sendiri atau orang lain harus bertindak sesuai daftar aturan yang tidak fleksibel.

b) Assertivity
Asertivitas adalah perilaku interpersonal yang mengandung pengungkapan pikiran dan perasaan secara jujur dan relatif langsung yang dilakukan dengan mempertimbangkan perasaan dan kesejahteraan orang lain. Seseorang dapat dikatakan berperilaku asertif jika ia mempertahankan dirinya sendiri, mengekspresikan perasaan yang sebenarnya, dan tidak membiarkan orang lain mengambil keuntungan dari dirinya. Pada saat yang bersamaan, ia juga mempertimbangkan bagaimana perasaan orang lain. Keuntungan berperilaku asertif, yaitu mendapatkan apa yang diinginkan dan biasanya tanpa membuat orang lain marah.

3. teknik yang dilakukan.
Adapun teknik-teknik yang sering digunakan untuk mengelola emosi marah adalah C.A.R.E. menjelaskan keempat langkah tersebut sebagai berikut:
a) Commitment to Change (komitmen untuk mengubah diri)
Langkah pertama dalam mengelola kemarahan adalah komitmen untuk berubah. Individu yang bermasalah dalam hal mengelola kemarahan haruslah mempunyai sebuah komitmen yang kuat untuk mengubah dirinya. Dengan adanya komitmen yang kuat, individu akan semakin termotivasi untuk belajar mengelola emosi marah dan menerapkan teknik-tekniknya dalam kehidupan nyata.
b) Awareness of Your Early Warning Signs (kesadaran akan pertanda kemarahan)Setiap orang memegang kendali pada saat bertindak atas dasar kemarahan. Tidak ada orang yang “meledak” atau “membentak” begitu saja, setiap amarah pasti memiliki tanda-tanda peringatan awal. Tanda-tanda itu bisa bersifat fisiologis, tingkah laku, dan kognitif. Dengan belajar mengenali tanda-tanda peringatan awal kemarahan, seseorang bisa lebih sungguh-sungguh memegang kendali atas tindakan kemarahannya.
Tanda-tanda peringatan awal kemarahan meliputi tiga macam pertanda yaitu:
• Fisiologis: Pertanda fisiologis yang sering muncul antara lain: merasa wajah menjadi panas memerah, aliran darah yang cepat di urat nadi, jantung berdebar-debar, napas menjadi lebih cepat, pendek atau tidak stabil, badan terasa panas atau dingin, leher terasa nyeri, rahang menjadi kaku, otot mengeras dan tegang.
• Tingkah laku : Pertanda tingkah laku meliputi: mengepalkan tinju, gigi menggerutuk, berjalan mondar-mandir dalam ruangan, tidak bisa tetap duduk atau berdiri, berbicara dengan lebih cepat.
• Kognitif: Pertanda kognitif mencakup pikiran-pikiran seperti: dia melakukan itu kepadaku karena dengki, dia melakukan itu dengan sengaja, aku tidak bisa percaya dia melakukan hal itu, tidak ada orang yang bicara kepadaku seperti itu, aku akan menunjukkan kepada dia, hal ini tidak bisa diterima.
c) Relaxation (relaksasi)
Relaksasi dan kemarahan merupakan reaksi yang saling berlawanan. Keduanya melibatkan gelombang otak dan reaksi tubuh yang berbeda, sehingga tidak mungkin terjadi bersamaan. Relaksasi merupakan alat bantu yang ampuh untuk mengurangi stres secara umum, mengurangi kemarahan ketika tanda-tanda peringatan awal kemarahan muncul, dan membantu mereka yang mengalami kesulitan tidur. Dengan melakukan relaksasi setiap hari, setiap individu dapat memperoleh manfaatnya. Ada beberapa bentuk relaksasi, yaitu: relaksasi otot, indera, dan kognitif. Relaksasi otot merupakan relaksasi yang disarankan untuk pemula karena relaksasi ini paling mudah untuk dilakukan.
Emosi, pikiran, dan tingkah laku merupakan tiga hal yang saling mempengaruhi. Siklus perasaan, pikiran dan tindakan saling mendorong dan memperkuat dirinya sendiri. Semakin seseorang memikirkan tentang kemarahannya semakin ia menjadi marah. Hal ini membawanya bertindak atas dasar kemarahannya tersebut. Konsep ini tampak seperti pada gambar berikut:
Setiap individu bisa memotong siklus di atas. Masing-masing individu memiliki kendali atas pikiran dan tindakannya. Dengan mengubah pikiran dan tindakan, seseorang bisa mengurangi kemarahannya. Relaksasi merupakan suatu cara yang dapat digunakan untuk memecahkan siklus kemarahan dengan mengintervensi pada tingkat tingkah laku.
d) Exercising Self Control with Time Outs (latihan kontrol diri dengan waktu jeda)
Ketika individu mulai menyadari akan tanda peringatan awal kemarahan, sebaiknya individu tersebut segera mengambil waktu jeda. Waktu jeda adalah waktu dimana individu menjauhi situasi atau orang yang memprovokasi kemarahan. Waktu jeda berguna untuk menenangkan diri sehingga individu dapat menangani kemarahan dengan cara yang lebih konstruktif. Selama waktu jeda, sebaiknya individu terlibat dalam suatu kegiatan yang bersifat berlawanan dengan kemarahan, yaitu relaksasi. Ada banyak kegiatan yang merelakskan, seperti berjalan kaki, berlari, olah raga, mendengarkan musik, menelpon teman, mandi, bermain sepatu roda atau pergi ke toko buku. Selama waktu jeda janganlah terlibat dengan hal-hal yang agresif, seperti memukul bantalan latihan tinju atau mengendarai mobil dengan cepat, karena hal itu dapat mempertahankan asosiasi perasaan marah dengan bertindak atas marah itu. Jika individu sudah merasa tenang, maka individu tersebut dapat kembali ke situasi atau orang yang sebelumnya membawanya ke perasaan marah dan membicarakannya dengan baik. Dengan cara ini, orang tersebut tidak merasa dihindari atau diabaikan dengan teknik waktu jeda. Jika individu merasakan adanya tandatanda peringatan marah lagi, maka individu dapat mengambil waktu jeda lagi.

Sabtu, 27 Mei 2017

Existential Therapy (Tugas ke 3)

Existential therapy

Nama kelompok :
Putri Nurul Hasanah              (18514619)
Riska Hidayah                    (19514492)
Zenia Zuraini Fatnie Pakaya      (1C514665)


Apa itu terapi eksistensial ?

    Psikoterapi eksistensial adalah metode terapi filosofis yang beroperasi dengan keyakinan bahwa konflik batin ada dalam diri seseorang karena konfrontasi individu dengan hasrat eksistensi. Terapi eksistensial adalah bentuk unik dari psikoterapi yang terlihat untuk mengeksplorasi kesulitan dari perspektif filosofis, daripada menggunakan pendekatan berbasis teknik. Berfokus pada kondisi manusia secara keseluruhan, terapi eksistensial memuji kemampuan manusia dan mendorong individu untuk bertanggung jawab atas keberhasilan mereka.Sejarah terapi eksistensial    Para filsuf yang terutama berkepentingan dengan pengembangan psikoterapi eksistensial adalah mereka yang karyanya secara langsung ditujukan untuk mewujudkan eksistensi manusia.Namun, gerakan filosofis yang paling penting dan yang secara langsung bertanggung jawab atas pembangkitan terapi eksistensial adalah fenomenologi dan filsafat eksistensial
    Titik awal filsafat eksistensial dapat ditelusuri kembali ke abad kesembilan belas dan karya Søren Kierkegaard dan Friedrich Nietzsche. Keduanya bertentangan dengan ideologi dominan pada zaman mereka berkomitmen untuk mengeksplorasi kenyataan dan bagaimana hal itu dialami.
     Sebagai salah satu filsuf eksistensial pertama, Kierkegaard berteori bahwa ketidakpuasan manusia hanya bisa diatasi melalui kebijaksanaan internal. Kemudian, Nietzsche mengembangkan teori eksistensialisme dengan mengenalkan gagasan kehendak bebas dan tanggung jawab pribadi. Pada awal 1900an, filsuf seperti Martin Heidegger dan Jean-Paul Sartre mulai mengeksplorasi peran investigasi dan interpretasi dalam proses penyembuhan. Selama beberapa dekade berikutnya, orang sezaman lainnya mulai mengakui pentingnya pengalaman dalam kaitannya dengan pemahaman sebagai metode untuk mencapai kesehatan dan keseimbangan psikologis.      Otto Rank adalah salah satu terapis eksistensial pertama yang secara aktif mengejar disiplin, dan pada pertengahan abad ke-20, psikolog Paul Tillich dan Rollo May membawa terapi eksistensial ke dalam arus utama melalui tulisan dan ajaran mereka, seperti yang dilakukan Irvin Yalom setelah mereka. Pendekatan populer mulai mempengaruhi teori-teori lain, termasuk psikologi humanistik dan logoterapi, yang dikembangkan oleh Viktor Frankl. Pada saat yang sama, filsuf Inggris memperluas eksistensialisme lebih jauh dengan berdirinya The Philadelphia Association, sebuah organisasi yang didedikasikan untuk membantu orang mengelola masalah kesehatan mental mereka dengan terapi eksperimental. Institusi lain yang mewujudkan teori eksistensialisme mencakup Society for Existential Analysis, yang didirikan pada tahun 1988, dan Komunitas Internasional Konselor Eksternal, dibuat pada tahun 2006.
Existential Psychotherapy 'Givens'Seperti yang dicatat oleh Irvin D. Yalom psikoterapi eksistensial didasarkan pada keyakinan mendasar bahwa masing-masing individu mengalami konflik intrapsik karena interaksinya dengan kondisi tertentu yang melekat pada eksistensi manusia yang disebut givens. Teori-teori tersebut mengenali setidaknya empat khayalan eksistensial utama:
  • Freedom and associated responsibility (kebebasan dan tangung jawab )
  • Death (kematian)
  • Meaninglessness (tanpa arti)

Konfrontasi dengan kondisi yang disebutkan di atas, atau memberi, memberi seseorang dengan tipe ketakutan yang biasa disebut kegelisahan eksistensial. kecemasan ini diperkirakan mengurangi kesadaran fisik, psikologis, sosial, dan spiritual seseorang, yang dapat menyebabkan konsekuensi jangka panjang yang signifikan.
Misalnya, fakta bahwa masing-masing dari kita dan setiap orang yang kita cintai harus mati pada waktu yang tidak pasti mungkin menjadi sumber kegelisahan yang dalam, dan ini mungkin menggoda kita untuk mengabaikan kenyataan dan kebutuhan akan kematian dalam eksistensi manusia. Dengan mengurangi kesadaran akan kematian, kita mungkin gagal membuat keputusan yang benar-benar dapat melindungi atau bahkan memperkaya hidup kita. Di ujung lain dari spektrum, orang-orang yang terlalu sadar akan fakta bahwa kematian tidak bisa dihindari mungkin didorong untuk keadaan neurosis atau psikosis.
THEORETICAL ASSUMPTIONSPendekatan eksistensial menganggap sifat manusia bersifat open-minded, fleksibel dan mampu dalam berbagai pengalaman. Orang itu dalam proses konstan untuk menjadi. Saya menciptakan diri saya sebagaimana adanya dan harus menemukan diri saya setiap hari. Tidak ada hakikat diri, karena saya mendefinisikan kepribadian dan kemampuan saya dalam tindakan dan dalam kaitannya dengan lingkungan saya. Ketidakkekalan dan ketidakpastian ini menimbulkan rasa cemas yang dalam (Angst), sebagai tanggapan atas realisasi ketidaktahuan seseorang, dan tanggung jawab simultan untuk menciptakan sesuatu menggantikan kekosongan yang sering kita alami. Semuanya berlalu dan tidak ada yang bertahan. Kita tidak pernah bisa bertahan sampai sekarang. Kita selalu tidak lagi atau belum apa yang kita inginkan. Kita menemukan diri kita berada di suatu tempat di tengah masa berlalu, bergulat dengan masa lalu dan kemungkinan masa depan, tanpa pengetahuan pasti tentang apa arti semua itu.
Pemikir eksistensial berusaha menghindari model restriktif yang mengkategorikan atau memberi label pada orang. Sebaliknya mereka mencari universal yang bisa diamati secara lintas budaya. Tidak ada teori kepribadian eksistensial yang membagi kemanusiaan menjadi tipe atau mengurangi orang menjadi komponen bagian. Sebaliknya, ada deskripsi tentang berbagai tingkat pengalaman dan eksistensi yang dengannya orang-orang dihadapkan pada konfrontasi.Cara seseorang berada di dunia pada tahap tertentu dapat dipetakan pada peta umum eksistensi manusia ini (Binswanger, 1963; Yalom, 1980; van Deurzen-Smith, 1984). Seseorang dapat membedakan empat dimensi dasar eksistensi manusia: fisik, sosial, psikologis dan spiritual. Pada masing-masing dimensi ini orang-orang menghadapi dunia dan membentuk sikap mereka dari pengalaman mereka sendiri terhadap pengalaman mereka. Orientasi kita terhadap dunia mendefinisikan realitas kita. Keempat dimensi ini jelas terjalin dan menyediakan medan gaya empat dimensi yang kompleks untuk keberadaan kita. Kita terbentang di antara tiang positif dari apa yang kita cita-citakan pada setiap dimensi dan kutub negatif dari apa yang kita takuti.
  • ·         Dimensi fisik

Pada dimensi fisik (Umwelt) kita berhubungan dengan lingkungan kita dan kepada alam semesta di sekitar kita. Ini termasuk sikap kita terhadap tubuh yang kita miliki, lingkungan konkret yang kita hadapi, iklim dan cuaca, objek dan harta benda, ke tubuh orang lain, kebutuhan tubuh kita sendiri, kesehatan dan penyakit dan Kematian kita sendiri. Perjuangan mengenai dimensi ini adalah, secara umum, antara pencarian dominasi atas unsur-unsur dan hukum alam (seperti dalam teknologi, atau dalam olahraga) dan kebutuhan untuk menerima keterbatasan batas-batas alam (seperti dalam ekologi atau usia tua). Sementara orang pada umumnya bertujuan untuk keamanan pada dimensi ini (melalui kesehatan dan kekayaan), sebagian besar kehidupan membawa kekecewaan dan kesadaran bertahap bahwa keamanan semacam itu hanya bersifat sementara. Menyadari keterbatasan dapat membawa pelepasan ketegangan yang luar biasa.
  • ·         Dimensi sosial

Pada dimensi sosial (Mitwelt) kita berhubungan dengan orang lain saat kita berinteraksi dengan dunia publik disekitar kita. Dimensi ini mencakup tanggapan kita terhadap budaya yang kita jalani, juga kelas dan ras yang kita miliki (dan juga yang bukan milik kita). Sikap di sini berkisar dari cinta membenci dan dari kerja sama hingga persaingan. Kontradiksi dinamis dapat dipahami dalam hal penerimaan versus penolakan atau keterikatan versus isolasi. Beberapa orang lebih menyukai-menarik dari dunia orang lain sebanyak mungkin. Yang lain membabi buta mengejar penerimaan publik dengan mengikuti peraturan dan mode saat ini. Jika tidak, mereka mencoba untuk naik di atas ini dengan menjadi trendsetter sendiri. Dengan memperoleh ketenaran atau bentuk kekuatan lainnya, kita dapat mencapai dominasi orang lain untuk sementara. Cepat atau lambat kita, bagaimanapun, semua dihadapkan pada kegagalan dan kesendirian.
  • ·         Dimensi psikologis

Pada dimensi psikologis (Eigenwelt) kita berhubungan dengan diri kita sendiri dan dengan cara ini menciptakan dunia pribadi. Dimensi ini mencakup pandangan tentang karakter kita, pengalaman masa lalu dan kemungkinan masa depan kita. Kontradiksi di sini sering dialami dalam hal kekuatan dan kelemahan pribadi. Orang mencari rasa identitas, perasaan menjadi substansial dan memiliki diri. Tapi mau tidak mau banyak kejadian akan menghadapkan kita pada bukti yang bertentangan dan membuat kita menjadi bingung atau disintegrasi. Aktivitas dan kepasifan merupakan polaritas penting di sini. Penegasan dan resolusi diri pergi dengan yang pertama dan menyerah dan menyerah dengan yang terakhir. Menghadapi pembubaran diri terakhir yang datang dengan kehilangan pribadi dan menghadapi kematian bisa menimbulkan kegelisahan dan kebingungan bagi banyak orang yang belum melepaskan rasa percaya diri mereka.
  • ·         Dimensi spiritual

Pada dimensi spiritual (Überwelt) (van Deurzen-Smith, 1984), kita berhubungan dengan yang tidak diketahui dan dengan demikian menciptakan cita-cita dunia ideal, sebuah ideologi dan pandangan filosofis. Di sinilah kita menemukan makna dengan meletakkan semua potongan teka-teki itu untuk diri kita sendiri. Bagi sebagian orang, hal ini dilakukan dengan mengikuti dogma agama atau pandangan dunia preskriptif lainnya, karena ada juga yang menemukan atau menghubungkan makna dengan cara yang lebih sekuler atau pribadi. Kontradiksi yang harus dihadapi pada dimensi ini sering dikaitkan dengan ketegangan antara tujuan dan absurditas, harapan dan keputusasaan. Orang menciptakan nilai mereka untuk mencari sesuatu yang cukup berarti untuk hidup atau mati, sesuatu yang mungkin memiliki validitas tertinggi dan universal. Biasanya tujuannya adalah penaklukan jiwa, atau sesuatu yang secara substansial melampaui angka kematian (seperti misalnya menyumbangkan sesuatu yang berharga bagi manusia). Menghadapi kekosongan dan kemungkinan ketiadaan adalah hal yang sangat diperlukan dari pencarian ini untuk yang kekal.referensi :https://www.psychologytoday.com/blog/evil-deeds/201101/what-is-existential-psychotherapyhttp://www.counselling-directory.org.uk/existential-therapy.html#theoriesoftheexistentialapproachhttps://alifemoremeaningful.org/2014/12/17/the-givens-of-existence/http://www.goodtherapy.org/learn-about-therapy/types/existential-psychotherapyhttps://en.wikipedia.org/wiki/Existential_therapy#View_of_the_human_mindhttp://www.emmyvandeurzen.com/?p=22
x
x
x


Senin, 01 Mei 2017

Tugas 2

Nama kelompok :

  • Putri Nurul H (18514619)
  • Riska Hidayah (19514492)
  • Zenia Zuraini Fatnie P (1C514665)
Mengapa psikoterapi dalam psikoanalisis menganilisis psikopatologi berdasarkan perkembangan psikoseksual?

Karena psikoanalisa merupakan satu hal yang unik sekaligus paradoksial, dan juga psikoanalisa merupakan sistem yang paling dikenal luas meskipun tidak dipahami secara universal. Dan disisi lain psikoanalisa juga banyak pengaruhnya dalam bidang lain diluar psikologi melalui pemikiran penemunya, Sigmund Freud. Psikoanalisa merupakan suatu metode penyembuhan yang bersifat psikologis dengan cara-cara fisik. Psikoanalisa jelas terkait dengan tradisi Jerman yang menyatakan bahwa pikiran adalah entitas yang aktif, dinamis dan bergerak dengan sendirinya. Kita ketahui bahwa Freud menjadi sorotan banyak kalangan ketika dia menguraikan seluk beluk sesksualitas manusia. Freud menyangkal bahwa dorongan seksual tidak berawal pada masa pubertas namun sedari bayi, dan seksual pun menjadi penggerak dalam keseharian manusia. Hal ini menjaditrendseller corak terapi dan tafsiran kepribadian fenomena kehidupan, kemudian dengan cepat banyak para psikiater yang bergabung dalam mahzab psikodinamika Freud. Nama-nama seperti Carl Gustave Jung, A.A Brill, Verenzci, Karl Abraham, dan Alfred Alder mencoba untuk membuktikan itu. Perkembangan  kepribadian individu menurut Freud, dipengaruhi oleh kematangan dan cara-cara individu mengatasi ketegangan. Menurut Freud, kematangan adalah pengaruh asli dari dalam diri manusia.
Tahapan Perkembangan Kepribadian sehat dan tidak sehat sangat berhubungan dengan cara-cara yang digunakan indivdu dalam melewati fase-fase perkembangan pada enam tahun pertama kehidupannya. Tahapan perkembangan ini disebut tahapan psikoseksual yaitu tahapannya tahap oral, tahap anal, tahap phalic, tahap laten, tahap genital. Karena memprestasikan suatu kebutuhan seksual yang menonjol pada setiap perkembangan, jadi jika hambatan yang terjadi pada proses pemenuhan kebutuhan seksual pada setiap tahap akan berpotensi gangguan perilaku pada dewasa. Freud memandang psikopatologi sebagai masalah dalam perkembangan, yaitu terganggunya kepribadian individu pada saat melewati tahap-tahap psikoseksual. Bagi Freud, perkembangan kepribadian sebagai sesuatu yang kumulatif, sehingga gangguan pada masa awal perkembangan akan menjadi peristiwa traumatik yang berpengaruh sampai individu dewasa.
Psikopatologi menurut psikoanalisis ada beberapa jenis, yaitu :
1.      Histeria (Conversion Disorder)
Kelumpuhan tanpa sebab-sebab fisik, menurut psikoanalisis ini akibat adanya transformasi dari konflik-konflik psikis menjadi malfungsi fisik.
2.      Fobia
Ketakutan yang sangat dan tidak pada tempatnya, oleh Freud dianalisis sebagai dampak dari kecemasan yang dialihkan, bisa kecemasan yang berkaitan dengan impuls seksual atau kecemasan akibat peristiwa traumatik.
3.      Obsesi- kompulsi
Obsessive Compulsive Disorder (OCD) adalah sebuah kondisi psikologis yang ditandai dengan perilaku pengulangan yang disebabkan oleh ketakutan atau pikiran yang tidak masuk akal. Seseorang yang didiagnosis menderita OCD mungkin tidak menyadari kalau obsesinya tidak masuk akal. Namun, ia akan merasa harus melakukan tindakan tertentu untuk meredakan stres akibat kondisi tertentu. Kondisi tersebut seringkali membawa rasa takut, dan meskipun ia telah berusaha untuk meredakan rasa takutnya, rasa takut itu semakin bertambah, sehingga menghasilkan sebuah tindakan yang dilakukan berulang-ulang.
4.      Depresi
Perasaan tidak mampu, tidak kompeten, kehilangan harga diri, dan merasa bertanggung jawab terhadap semua kejadian buruk (pada dirinya dan lingkungan). Menurut Freud, akar masalahnya adalah kehilangan cinta pada Oedipus Complex, yang membuat orang marah kepada diri sendiri, karena dia kehilangan cinta dari orangtua, dari teman bahkan dari negaranya.
5.      Ketagihan obat atau alkohol
Freud menganggap adiksi dilatarbelakangi oleh insting mati.

REFERENSI :
Alwisol. (2010). Psikologi kepribadian. Malang: UMM Press
Pizaro. (2008). Teori seksualitas sigmund freud tentang kepribadianpsikopatologi dan kritik
            psikologi islami (Skripsi). 
Jakarta: Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah

Senin, 16 Januari 2017

Tugas Manajemen ke 4

Nama: Zenia Zuraini Fatnie Pakaya
Kelas : 3pa17
Npm : 3pa17

I. EMPOWERMENT, STRESS
DAN KONFLIK
Empowerment
Pemberdayaan (empowerment) adalah tindakan yang memberikan seorang individu atau tim hak dan fleksibelitas untuk membuat keputusan dan melaksanakan tindakan. Hal ini semakin diperluas dan sangat disarankan dibanyak organisasi saat ini.
Stress
Menurut Handoko (1993) stress merupakan suatu kondisi ketegangan yang mempengaruhi emosi, proses berfikir dan kondisi seseorang. Kondisi yang cenderung menyebabkan stress disebut stressor.
Sumber stress
Menurut Prijosakosono dan Kurnialui (2005), sumber-sumber stress utama dibagi ke dalam 4 golongan yaitu 
- Suvival stress : stress ini dapat terjadi dalam suatu keadaaan dimana keselamatan jiwa teramcam 
- Internally Stress : hal ini dapat disebabkan oleh kekhawatiran yang berlebihan atas hal-hal yang diluar control kita. Biasa nya hal ini terjadi akibat tingkah laku kita sendiri atau suatu keadaan yang kita ciptakan sendiri, misalnya menantang bahaya dengan kendaraan ngebut, jalan di pinggir tebing yang curam
- Environmental & Job Stress : lingkungan kerja yang tak kondusif, tempat tinggal yang tak nyaman dan sumpek, dan kemacetan lalu lintas bisa memicu stress.
- Fatigue & Overwork : terlampau banyak hal yang ingin dikejar, dikerjakan, dan banyak rencana, namun tidak fokus dan waktu yang terlalu singkat. Penumpukan kerjaan dapat memicu stress. Demikian pula hanya dengan orang yang terjebak dalam perilaku kerja berlebihan (workholic), maka ia masuk kedalam perangkap stress of overwork
Pengertian Konflik
Menurut Robbins (2002:199) konflik adalah adanya konser oposisi, keterbatasan, sumber daya, dan hambatan, serta asumsi adanya ketidaksesuaian kepentingan dan tujuan antara dua kelompok atau lebih.  sedangkan menurut Mullins dan Wijono (2012: 203) konflik merupakan kondisi terjadinya ketidaksesuaian tujuan dan munculnya berbagai pertentangan perilaku, baik yang ada didalam diri indivifu, kelompok maupun organisasi.

Jenis-jenis konflik, ada beberapa jenis, yaitu:
Konflik seorang dengan dirinya sendiri, setiap orang parti memiliki harapan, cita-cita, keinginan, hasrat. Kesemuanya dinamakan target. Target yang tersebut ingin dicapai, menimbulkan tekanan. Yaitu, target memaksakan orang tersebut untuk segera merealisasikan (target) untuk dapat terwujud dengan baik.
Konflik seorang dengan orang lain, konflik seperti ini bisa terjadi karena permasalahan dengan orang lain terlibat perselisihan dan persaingan baik secara langsung mauun perang urat syaraf.
Konflik seorang dengan organisasi, jenis konflik ini bisa terjadi karena seseorang tidak puas dengan organisasi. Ketidakpuasan terjadi karena organisasi tidak bisa memenuhi tuntutan-tuntutan pekerja seperti peribahan status, kenakan gaji, kejelasan berkarier untuk dipromosikan mulai tidak memperhatikan karyawannya, karena tidak puas dengan kinerja para pegawainya
Konflik antarbagian didalam organisasi, terjadinya konflik ini akibat salah satu bagian seperti dijadikan “anak emas” karena prestasi yang mereka hasilkan. Akibatnya bagian-bagian lain seperti merasa diabaikan dan menyebabkan adanya rasa apatis, benci, dan “menutup diri” untuk menjalin komunkasi dengan bagian lainnya. Komunkasi setegah hati seperti ini, akan menyebabkan penyebaran informasi menjadi tersendat.
Konflik antarorganisasi, seseorang bisa saja berteman dengan orang lain dengan akrabnya. Atau hubungan seseorang dengan yang lain begitu baik karena adanya hubungan kekerabatan. Tetapi bisa saja berubah tidak harmonis karena perselisihan. Perselisihan terjadi karena tiap-tiap orang, masing-masing membela organisasi yang berbeda. Bagaimana pun pendapat orang lain, karena loyalitas akan membela terus organisasinya. Dan karena membela organisasi seserorang bisa merusak hubungan dengan orang lain dan beranggapan lebih baik memiliki ikatan dengan organisasi karena akan lebih penting dan bermanfaat disbanding mempertahankan hubungan dengan orang lain.

Proses-proses Konflik
Kondisi yang mendahului (antecendent condition). Kondisi ini terdiri dari faktor-faktor yang pada umumnya membawa pada konflik. Kemungkinan konflik yang dilihat (perceived potential conflict). Pada tahap ini satu atau kedua belah pihak melihat kemungkinan konflik antara mereka. Konflik yang dirasa (felt conflict). Para tahap ini, tubrukan kepentingan dan kebutuhan terajadi. Satu pihak atau kedua belah pihak yang terlibat melihat keadaan yang tidak memuaskan, menghambat, menakutkan, mengancam. Perilaku yang tampak (manifest behavior). Pada waktu konflik sudah terjadi orang-orang menganggapi dan mengambil tindakan. Bentuknya dapat secara lisan, seperti saling mendiamkan, bertengkar, berdebat, atau nyata dalam perbuatan, seperti bersaing, bermusuhan atau menyerang. Konflik di tekan atau dikelola (suppressed or managed conflict). Pada tahap ini konflik yang sudah teradi dapat ditekan, meskipun masalah intinya tidak ditangani dan pihak-pihak yang berkonflik hanya sekedar berdampingan dalam suasana panas itu. Atau konflik dikelola dan diselesaikan. Sesudah konflik diselesaikan (management aftermath). Bila konflik tak dikelola dan diselesaikan, kedua bela pihak yang terlibat dalam konflik menganggung segala akibatya entah bagi diri sendiri, kerja, hubungan dengan orang lain, atau lembaga tempat orang bekerja. Bila konflik dan berhasil, pihak-pihak yang terlibat perlu menindaklanjuti hasi pengulahan itu.
Kasus yang terjadi di salah satu RS yang terdapat di Propinsi Sulawesi Tenggara, menarik untuk dibahas. RS yang dibangun pemerintah kolonial Belanda tahun 1940 ini terletak di pusat kota, bahkan relatif padat lalu-lintas sekitarnya, secara topografi letaknya yang strategis tadi, menjadikannya sebagai salah satu tujuan rujukan pasien lain dari daerah sekitar, bahkan pasien dari kabupaten berbeda pun lebih memilih RS ini dibanding tempat lain, pun kualifikasi tenaga medis yang tersedia cukup lumayan untuk ukuran kota kecil.
Namun karena perkembangan dan kemajuan wilayah, di kemudian hari terlihat bahwa ternyata proses pemekaran wilayah kabupaten tadi menjadi beberapa wilayah daerah tingkat II yang baru menyertakan beberapa problem dilematis, seperti pembagian asset, dimana diklaim sebagai milik kedua daerah, dengan tenaga medis terlatih seperti dokter spesialis menjadi terseret pada tarik-menarik klaim tadi, bahwa daerah ini atau daerah itu, yang memiliki dan berhak atas dokter spesialis tersebut, dengan sejumlah problem hukum di dalamnya (dokter spesialis tadi dibiayai dengan beasiswa pemda).
Selain itu masih ada persoalan lain, seperti :
  1. Dokter umum dan spesialis; terkesan lebih mengutamakan praktek swasta di tempatnya masing-masing, dengan konsekuensi logis karena dokter spesialis memiliki Klinik sendiri, mereka lebih fokus pada pelayanan pasien di Klinik pribadi, bahkan pada banyak kasus itu mengurangi tingkat kekerapan kehadiran dan pelayanan medis mereka di RS, sementara jumlah tenaga spesialis sangat kurang. Akibatnya masyarakat terpaksa menanggung biaya kesehatan yang membengkak, di banding pelayanan RS.
  2. Dokter ahli kebidanan memiliki Klinik bersalin sendiri, dengan tenaga bidan yang diseleksi sendiri dari tenaga bidan yang ada di RS. Masalah yang muncul ialah sejumlah tenaga bidan yang tak terpakai merasa dirugikan karena banyak pasien yang hendak bersalin di RS, menjadi dialihkan ke klinik pribadi Dokter tadi, belum lagi kecemburuan yang muncul karena kesenjangan penghasilan, sedikit banyak akan berpengaruh pada pola relasi antara dokter dengan bidan atau antara bidan denga bidan yang lain atau antara sang dokter dengan manajemen RS sendiri.
  3. Masyarakat mengeluhkan tingginya biaya pelayanan kesehatan di RS apalagi di tempat praktek pribadi. Di RS, para dokter cenderung lebih memilih bekerjasama dengan perusahaan obat tertentu, ketimbang meresepkan obat yang tertera dalam jaminan Askes maupun JPS. Sehingga citra RS dan tenaga medis menjadi buruk karena kurang berpihak pada masyarakat.
  4. Suasana kerja dimana dokter masih terlalu dominan, terlihat cukup mengganggu fungsi dan kinerja tenaga kesehatan lainnya, hal ini didukung pula oleh kebijakan RS yang tak terlalu memberi tempat bagi upaya promotif dan preventif, namun masih mengedepankan kegiatan kuratif. Kesan tersebut terasa kental tatkala kita mengamati tenaga kesehatan non dokter yang sebenarnya dapat didayagunakan tetapi belum juga terpakai maksimal sebab terbentur kendala political will pemimpin daerah tersebut. Akibatnya dokter dapat terjebak untuk menjadi bergerak di luar hal yang semestinya.
  5. Sarana penunjang lainnya seperti laboratorium dan pemeriksaan lainnya masih belum memadai, hal ini kurang lebih terkait dengan penganggaran sector kesehtan di daerah tersebut masih belum menempati porsi yang cukup. Kinerja dari dinas kesehatan juga kurang maksimal, seharusnya melakukan analisis kebutuhan, sesuai skala prioritas. Alat-alat pemeriksaan penunjang yang terbatas tadi berimplikasi pada kinerja pelayanan yang tak maksimal, dalam beberapa kasus, pasien terpaksa harus dirujuk ke RS yang lebih lengkap karean keterbatasan alat, ini artinya sekali lagi pasien harus menanggung biaya tambahan.
  6. Tenaga kesehatan lainnya seperti paramedik dan suster senior terkesan kurang begitu bersahabat dengan manajemen RS, yang belum lagi mengelola RS dengan terbuka dengan menerapkan konsep organisasi pelayanan kesehatan modern.
  7. Tenaga keamanan, kebersihan dan laundry tak terlembagakan dengan rapi, akibatnya banyak muncul masalah lain yang tak diinginkan.
  8. Tingkat perhatian pemerintah daerah terhadap perbaikan kesejahteraan tenaga medis berimplikasi nyata pada penyelenggaraan pelayanan yang sebenarnya akan dapat lebih baik lagi, jika kesejahteraan seperti insentif daerah ditingkatkan, hal tersebut kontras terasa kala dibandingkan dengan sederet program pengembangan dan kemajuan kota.
  9. RS karena belum memiliki dokter spesialis tertentu, mengakibatkan penumpukan beban kerja pada dokter spesialis yang telah ada.
  10. Dokter umum dalam beberapa kasus harus menanggung pula peningkatan beban kerja.
  11. Kurangnya paket pelatihan dan pendidikan sebagai wahana penyegaran tenaga kesehatan baik dilakukan oleh RS sendiri maupun oleh dinas kesehatan.
Poin-poin yang telah dipaparkan di atas menarik dikaji lebih dalam, bahwa ternyata ada banyak variable yang berpengaruh dalam pelayanan kesehatan RS, satu hal memiliki pengaruh yang bersifat resiprokal (timbal balik) antara satu elemen dengan elemen yang lain.
Ada solusi yang telah ditawarkan seperti pemindahan RS ke areal yang lebih luas, penyekolahan tenaga kesehatan, program arisan bulanan, menghidupkan kembali budaya kritik lewat kebijakan kepala RS untuk membuka kotak saran, yang dengan bebas dapat di akses oleh siapa saja, serta pengembangan koperasi pegawai. Selain itu melakukan penekanan-penekanan pada tenaga medis untuk tetap mematuhi kebijakan RS dan pemerintah.



II. KOMUNIKASI DALAM
MANAJEMEN

Pengertian Komunikasi
Komunikasi adalah suatu ilmu dan seni penyampaian suatu pesan dari komunikator kepada komunikan, sehingga tercapai suatu pengertian bersama. Menurut Kozier & Erb (1995) komunikasi adalah pertukaran informasi antara dua orang atau lebih, atau pertukaran ide, perasaan, dan pikiran.

Proses Komunikasi
Komunikator – Pesan – Media – Komunikasi – Pengaruh

Hambatan Komunikasi
Perbedaan Bahasa dan Persepsi Setiap hari kita menerima input berupa pemandangan, suara, bau, dsb. Lesikar dkk (1999) mengilustrasikan oikiran kita yang mengatur input ini menjadi peta mental (mental map) yang mewakili persepsi kita mengenai realitas. Bahkan bila dua orang mengalami peristiwa yang sama, bayangan mental mereka mengenai peristiwa itu tidak akan identik. Karena persespi anda unik, gagasan yang ingin anda sampaikan berbeda dengan orang lain. Sebagai pengirim, anda memilih rincian yang tampaknya penting bagi anda, yaitu proses yang dikenal sebagai persepsi selektif. Sebagai penerima, anda mencoba menyesuaikan rincian baru kedalam pola yang sudah ada dalam diri anda.




Gangguan Komunikasi
Menurut Locker (2000), ada 2 gangguan dalam berkomunikasi, yaitu:
Gangguan Emosional. Anda akan sulit menyusun pesan jika anda sedang kecewa, marah, atau takut.hal inilah yang menyebabkan gagasan dan perasaan sering membuat kita sulit bersikap objektif. Gangguan Fisik. Hambatan komunikasi sering kali bersifat fisik: hubungan yang buruk ,akustik yang jelek, dan tulisan yang tak dapat dibaca. Walaupun gangguan jenis ini tampaknya kecil, namun hal ini dapat menghambat pesan yang sebenarnya efektif.
Overload Informasi
Komunikasi bisnis sering terganggun karena materinya rumit dan kontroversial. Jumlah pesan  bisnis yang disampaikan semakin hari semakin banyak dan peluang untuk terjadinya umpan balik sering terbatas, sehingga sulit untuk meluruskan salah pengertian ketika hal itu terjadi. Dengan memahami berbagai hambatan komunikasi yang ada dalam organisasi, peluang untuk mengatasinya akan meningkat.
Penyaringan yang Tidak Tepat Menyaring adalah membuang atau menyingkat informasi sebelum pesan itu diteruskan kepada orang lain. Namun apabila hal tersebut mempengaruhi jumlah dan mutu informasi yang diteruskan, tentu akan mempengaruhi komunikasi efektif yang diharapkan. Dalam bisnis, banyak saingan antara anda dan penerima, sekretaris, asisten, mesin penjawab, dan voice-mail.

Pengertian Komunikasi Interpersonal efektif dalam organisasi
Komunikasi interpersonal dapat dikatakan efektif apabila pesan diterima dan dimengerti sebagaimana dimaksud oleh pengirim pesan, pesan ditindalanjuti dengan sebuah pembuatan secara sukarela oleh penerima pesan, dapat meningkatkan kualitas hubungan antar pribadi, dan tidak ada hambatan akan hal itu. Komunikasi interpersonal efektif adalah komunikasi yang terkandung dalam tatao muka dan slaing mempengaruhi, mendengarkan, menyampaikan pernyataan, keterbukaan, kepekaan yang merupakan cara paling efektif dalam mengubah sikap, pendapat dan perilaku seseorang dengan efek umpan balik secara langsung.
Adapun komunikasi efektif dalam organisasi mencakup dua jenis, yakni:
Componential
Menjelaskan komunikasi antar pribadi denganmengamati komponen-komponen utamanya, dalam hal ini adalah penyampaian pesan oleh satu orang dan penerimaan pesan oleh orang lain dengan berbagai dampaknya dan dengan peluang untuk memberikan umpan balik dengan segera.

Situational
Interaksi tatap muka antara dua orang dengan potensi umpan balik langsung dengan situasi yang mendukung di sekitarnya.

Model Pengolahan Informasi dalam Komunikasi
Model ini berdasarkan teori belajar kognitif (Piaget) dan berorientasi pada kemampuan seseorang dalam memproses informasi untuk memperbaiki kemmapuannya. Pengolahan informasi mengacu kepada cara orang menangani rangsangandari lingkungan, mengorganisasi data, mengembangkan konsep dan memecahkan masalah, serta mengunakan lambang verbal dan non verbal.
Model pengolahan informasi mencakup empat jenis, yaitu:
Rational
Model ini berasumsi bahwa orang beroperasi dalam model pengolahan dikontrol menggunakan prosedur analitis.
Limited Capacity
Model ini menunjukkan bagaimana orang menyederhanakan pengolahan informasi.
Expert
Model ini bergantung pada model limited capacity.
Cybernetic
Model ini berpendapat bahwa informasi diproses dari waktu ke waktu.

Model Interaktif Manajemen dalam Komunikasi Model interaktif manajemen mencakup lima jenis, yaitu:
Confidence
Dalam manajemen, timbulnya suatu interkasi karena adanya rasa nyaman. Kenyamanan tersebut dapat membuat suatu organisasi bertahan lama dan menimbulkan suatu kepercayaan dan pengertian.
Immediacy
Model organisasi yang membuat suatu organisasi tersbeut menjadi segar dan tidak membosankan.
Interaction Management
Adanya berbagai interaksi dalam manajemen, seperti mendengarkan dan juga menjelaskan kepada berbagai pihak yang bersangkutan.
Expressiveness
Mengembangkan suatu komitmen dalam suatu organisasi dengan berbagai macam ekspresi perilaku.
Other Orientation
Adanya komunikasi antara komunikasi dengan satu pihak ke pihak lain, sebagai tukar menukar informasi.


Daftar Pustaka

Pearce, John A., Robinson. 2008. Manajemen Strategis. Jakarta: Penerbit Salemba
Empat
Umar, Husein. 2005. Riset Sumber Daya Manusia. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama
Zainul, Zen. 2007. Kekuatan Metode Lafidzi. Jakarta: Qultum Media
Duha, Timotius. 2014. Perilaku Organisasi. Yogyakarta: Deepublish
Martono, M. 1994. Konflik di Tempat Kerja. Yogyakarta: Kanisius
Nugroho, Wahjudi. 2009. Komunikasi Dalam Keperawatan Gerontik. Jakarta:
EGC
Suprapto, Tommy. 2009. Pengantar Teori Dan Manajemen Komunikasi. Yogyakarta: Med Press
Sukoco, Badri M. 2007. Manajemen Administrasi Perkantoran Modern. Jakarta: Erlangga