Nama: Zenia
Zuraini Fatnie Pakaya
Kelas :
3pa17
Npm : 3pa17
I. EMPOWERMENT, STRESS
DAN KONFLIK
Empowerment
Pemberdayaan
(empowerment) adalah tindakan yang memberikan seorang individu atau tim hak dan
fleksibelitas untuk membuat keputusan dan melaksanakan tindakan. Hal ini
semakin diperluas dan sangat disarankan dibanyak organisasi saat ini.
Stress
Menurut Handoko (1993) stress merupakan suatu kondisi ketegangan yang mempengaruhi emosi, proses berfikir dan kondisi seseorang. Kondisi yang cenderung menyebabkan stress disebut stressor.
Menurut Handoko (1993) stress merupakan suatu kondisi ketegangan yang mempengaruhi emosi, proses berfikir dan kondisi seseorang. Kondisi yang cenderung menyebabkan stress disebut stressor.
Sumber stress
Menurut
Prijosakosono dan Kurnialui (2005), sumber-sumber stress utama dibagi ke dalam
4 golongan yaitu
- Suvival stress : stress ini dapat terjadi dalam suatu keadaaan
dimana keselamatan jiwa teramcam
- Internally Stress : hal ini dapat disebabkan oleh kekhawatiran yang
berlebihan atas hal-hal yang diluar control kita. Biasa nya hal ini terjadi
akibat tingkah laku kita sendiri atau suatu keadaan yang kita ciptakan sendiri,
misalnya menantang bahaya dengan kendaraan ngebut, jalan di pinggir tebing yang
curam
- Environmental & Job Stress : lingkungan kerja yang tak kondusif, tempat tinggal yang tak nyaman dan sumpek, dan kemacetan lalu lintas bisa memicu stress.
- Fatigue & Overwork : terlampau banyak hal yang ingin dikejar, dikerjakan, dan banyak rencana, namun tidak fokus dan waktu yang terlalu singkat. Penumpukan kerjaan dapat memicu stress. Demikian pula hanya dengan orang yang terjebak dalam perilaku kerja berlebihan (workholic), maka ia masuk kedalam perangkap stress of overwork
- Environmental & Job Stress : lingkungan kerja yang tak kondusif, tempat tinggal yang tak nyaman dan sumpek, dan kemacetan lalu lintas bisa memicu stress.
- Fatigue & Overwork : terlampau banyak hal yang ingin dikejar, dikerjakan, dan banyak rencana, namun tidak fokus dan waktu yang terlalu singkat. Penumpukan kerjaan dapat memicu stress. Demikian pula hanya dengan orang yang terjebak dalam perilaku kerja berlebihan (workholic), maka ia masuk kedalam perangkap stress of overwork
Pengertian Konflik
Menurut
Robbins (2002:199) konflik adalah adanya konser oposisi, keterbatasan, sumber
daya, dan hambatan, serta asumsi adanya ketidaksesuaian kepentingan dan tujuan
antara dua kelompok atau lebih.
sedangkan menurut Mullins dan Wijono (2012: 203) konflik merupakan
kondisi terjadinya ketidaksesuaian tujuan dan munculnya berbagai pertentangan
perilaku, baik yang ada didalam diri indivifu, kelompok maupun organisasi.
Jenis-jenis konflik, ada beberapa jenis, yaitu:
Konflik seorang dengan dirinya
sendiri, setiap orang parti memiliki harapan,
cita-cita, keinginan, hasrat. Kesemuanya dinamakan target. Target yang tersebut
ingin dicapai, menimbulkan tekanan. Yaitu, target memaksakan orang tersebut
untuk segera merealisasikan (target) untuk dapat terwujud dengan baik.
Konflik seorang dengan orang
lain, konflik seperti ini bisa terjadi karena
permasalahan dengan orang lain terlibat perselisihan dan persaingan baik secara
langsung mauun perang urat syaraf.
Konflik seorang dengan
organisasi, jenis konflik ini bisa terjadi
karena seseorang tidak puas dengan organisasi. Ketidakpuasan terjadi karena
organisasi tidak bisa memenuhi tuntutan-tuntutan pekerja seperti peribahan
status, kenakan gaji, kejelasan berkarier untuk dipromosikan mulai tidak
memperhatikan karyawannya, karena tidak puas dengan kinerja para pegawainya
Konflik antarbagian didalam organisasi, terjadinya konflik ini akibat salah satu bagian seperti dijadikan “anak emas” karena prestasi yang mereka hasilkan. Akibatnya bagian-bagian lain seperti merasa diabaikan dan menyebabkan adanya rasa apatis, benci, dan “menutup diri” untuk menjalin komunkasi dengan bagian lainnya. Komunkasi setegah hati seperti ini, akan menyebabkan penyebaran informasi menjadi tersendat.
Konflik antarbagian didalam organisasi, terjadinya konflik ini akibat salah satu bagian seperti dijadikan “anak emas” karena prestasi yang mereka hasilkan. Akibatnya bagian-bagian lain seperti merasa diabaikan dan menyebabkan adanya rasa apatis, benci, dan “menutup diri” untuk menjalin komunkasi dengan bagian lainnya. Komunkasi setegah hati seperti ini, akan menyebabkan penyebaran informasi menjadi tersendat.
Konflik antarorganisasi, seseorang bisa saja berteman dengan orang lain
dengan akrabnya. Atau hubungan seseorang dengan yang lain begitu baik karena
adanya hubungan kekerabatan. Tetapi bisa saja berubah tidak harmonis karena
perselisihan. Perselisihan terjadi karena tiap-tiap orang, masing-masing membela
organisasi yang berbeda. Bagaimana pun pendapat orang lain, karena loyalitas
akan membela terus organisasinya. Dan karena membela organisasi seserorang bisa
merusak hubungan dengan orang lain dan beranggapan lebih baik memiliki ikatan
dengan organisasi karena akan lebih penting dan bermanfaat disbanding
mempertahankan hubungan dengan orang lain.
Proses-proses Konflik
Kondisi yang
mendahului (antecendent condition).
Kondisi ini terdiri dari faktor-faktor yang pada umumnya membawa pada konflik.
Kemungkinan konflik yang dilihat (perceived
potential conflict). Pada tahap ini satu atau kedua belah pihak melihat
kemungkinan konflik antara mereka. Konflik yang dirasa (felt conflict). Para tahap ini, tubrukan kepentingan dan kebutuhan
terajadi. Satu pihak atau kedua belah pihak yang terlibat melihat keadaan yang
tidak memuaskan, menghambat, menakutkan, mengancam. Perilaku yang tampak (manifest behavior). Pada waktu konflik
sudah terjadi orang-orang menganggapi dan mengambil tindakan. Bentuknya dapat
secara lisan, seperti saling mendiamkan, bertengkar, berdebat, atau nyata dalam
perbuatan, seperti bersaing, bermusuhan atau menyerang. Konflik di tekan atau
dikelola (suppressed or managed conflict).
Pada tahap ini konflik yang sudah teradi dapat ditekan, meskipun masalah
intinya tidak ditangani dan pihak-pihak yang berkonflik hanya sekedar
berdampingan dalam suasana panas itu. Atau konflik dikelola dan diselesaikan.
Sesudah konflik diselesaikan (management
aftermath). Bila konflik tak dikelola dan diselesaikan, kedua bela pihak
yang terlibat dalam konflik menganggung segala akibatya entah bagi diri
sendiri, kerja, hubungan dengan orang lain, atau lembaga tempat orang bekerja.
Bila konflik dan berhasil, pihak-pihak yang terlibat perlu menindaklanjuti hasi
pengulahan itu.
Kasus yang terjadi di salah satu RS yang terdapat di
Propinsi Sulawesi Tenggara, menarik untuk dibahas. RS yang dibangun pemerintah
kolonial Belanda tahun 1940 ini terletak di pusat kota, bahkan relatif padat
lalu-lintas sekitarnya, secara topografi letaknya yang strategis tadi,
menjadikannya sebagai salah satu tujuan rujukan pasien lain dari daerah
sekitar, bahkan pasien dari kabupaten berbeda pun lebih memilih RS ini
dibanding tempat lain, pun kualifikasi tenaga medis yang tersedia cukup lumayan
untuk ukuran kota kecil.
Namun karena perkembangan dan kemajuan wilayah, di kemudian
hari terlihat bahwa ternyata proses pemekaran wilayah kabupaten tadi menjadi
beberapa wilayah daerah tingkat II yang baru menyertakan beberapa problem
dilematis, seperti pembagian asset, dimana diklaim sebagai milik kedua daerah,
dengan tenaga medis terlatih seperti dokter spesialis menjadi terseret pada
tarik-menarik klaim tadi, bahwa daerah ini atau daerah itu, yang memiliki dan
berhak atas dokter spesialis tersebut, dengan sejumlah problem hukum di
dalamnya (dokter spesialis tadi
dibiayai dengan beasiswa pemda).
Selain itu masih ada persoalan lain, seperti :
- Dokter umum dan spesialis; terkesan lebih mengutamakan praktek swasta di
tempatnya masing-masing, dengan konsekuensi logis karena dokter spesialis
memiliki Klinik sendiri, mereka lebih fokus pada pelayanan pasien di
Klinik pribadi, bahkan pada banyak kasus itu mengurangi tingkat kekerapan
kehadiran dan pelayanan medis mereka di RS, sementara jumlah tenaga
spesialis sangat kurang. Akibatnya masyarakat terpaksa menanggung biaya
kesehatan yang membengkak, di banding pelayanan RS.
- Dokter ahli kebidanan memiliki Klinik bersalin sendiri, dengan tenaga bidan
yang diseleksi sendiri dari tenaga bidan yang ada di RS. Masalah yang
muncul ialah sejumlah tenaga bidan yang tak terpakai merasa dirugikan
karena banyak pasien yang hendak bersalin di RS, menjadi dialihkan ke
klinik pribadi Dokter tadi, belum lagi kecemburuan yang muncul karena
kesenjangan penghasilan, sedikit banyak akan berpengaruh pada pola relasi
antara dokter dengan bidan atau antara bidan denga bidan yang lain atau
antara sang dokter dengan manajemen RS sendiri.
- Masyarakat mengeluhkan tingginya biaya pelayanan kesehatan di
RS apalagi di tempat praktek pribadi. Di RS, para dokter cenderung
lebih memilih bekerjasama dengan perusahaan obat tertentu, ketimbang
meresepkan obat yang tertera dalam jaminan Askes maupun JPS. Sehingga
citra RS dan tenaga medis menjadi buruk karena kurang berpihak pada
masyarakat.
- Suasana kerja dimana dokter
masih terlalu dominan, terlihat
cukup mengganggu fungsi dan kinerja tenaga kesehatan lainnya, hal ini
didukung pula oleh kebijakan RS yang tak terlalu memberi tempat bagi upaya
promotif dan preventif, namun masih mengedepankan kegiatan kuratif. Kesan
tersebut terasa kental tatkala kita mengamati tenaga kesehatan non dokter
yang sebenarnya dapat didayagunakan tetapi belum juga terpakai maksimal
sebab terbentur kendala political will pemimpin daerah tersebut. Akibatnya
dokter dapat terjebak untuk menjadi bergerak di luar hal yang semestinya.
- Sarana penunjang lainnya
seperti laboratorium dan pemeriksaan lainnya masih belum memadai, hal ini kurang lebih terkait dengan penganggaran
sector kesehtan di daerah tersebut masih belum menempati porsi yang cukup.
Kinerja dari dinas kesehatan juga kurang maksimal, seharusnya melakukan
analisis kebutuhan, sesuai skala prioritas. Alat-alat pemeriksaan
penunjang yang terbatas tadi berimplikasi pada kinerja pelayanan yang tak
maksimal, dalam beberapa kasus, pasien terpaksa harus dirujuk ke RS yang
lebih lengkap karean keterbatasan alat, ini artinya sekali lagi pasien
harus menanggung biaya tambahan.
- Tenaga kesehatan lainnya
seperti paramedik dan suster senior terkesan kurang begitu bersahabat dengan manajemen RS, yang belum lagi mengelola RS
dengan terbuka dengan menerapkan konsep organisasi pelayanan kesehatan
modern.
- Tenaga keamanan, kebersihan
dan laundry tak terlembagakan dengan rapi,
akibatnya banyak muncul masalah lain yang tak diinginkan.
- Tingkat perhatian pemerintah
daerah terhadap perbaikan kesejahteraan tenaga medis berimplikasi nyata pada penyelenggaraan pelayanan
yang sebenarnya akan dapat lebih baik lagi, jika kesejahteraan seperti
insentif daerah ditingkatkan, hal tersebut kontras terasa kala
dibandingkan dengan sederet program pengembangan dan kemajuan kota.
- RS karena belum memiliki
dokter spesialis tertentu, mengakibatkan penumpukan
beban kerja pada dokter spesialis yang telah ada.
- Dokter umum dalam beberapa
kasus harus menanggung pula peningkatan beban kerja.
- Kurangnya paket pelatihan dan
pendidikan sebagai wahana penyegaran tenaga
kesehatan baik dilakukan oleh RS sendiri maupun oleh dinas kesehatan.
Poin-poin yang telah dipaparkan di atas menarik dikaji
lebih dalam, bahwa ternyata ada banyak variable yang berpengaruh dalam
pelayanan kesehatan RS, satu hal memiliki pengaruh yang bersifat resiprokal
(timbal balik) antara satu elemen dengan elemen yang lain.
Ada solusi yang telah ditawarkan seperti pemindahan RS ke
areal yang lebih luas, penyekolahan tenaga kesehatan, program arisan bulanan,
menghidupkan kembali budaya kritik lewat kebijakan kepala RS untuk membuka
kotak saran, yang dengan bebas dapat di akses oleh siapa saja, serta
pengembangan koperasi pegawai. Selain itu melakukan penekanan-penekanan pada
tenaga medis untuk tetap mematuhi kebijakan RS dan pemerintah.
II. KOMUNIKASI
DALAM
MANAJEMEN
Pengertian Komunikasi
Komunikasi
adalah suatu ilmu dan seni penyampaian suatu pesan dari komunikator kepada
komunikan, sehingga tercapai suatu pengertian bersama. Menurut Kozier & Erb
(1995) komunikasi adalah pertukaran informasi antara dua orang atau lebih, atau
pertukaran ide, perasaan, dan pikiran.
Proses Komunikasi
Komunikator
– Pesan – Media – Komunikasi – Pengaruh
Hambatan Komunikasi
Perbedaan Bahasa dan Persepsi Setiap hari kita menerima
input berupa pemandangan, suara, bau, dsb. Lesikar dkk (1999) mengilustrasikan
oikiran kita yang mengatur input ini menjadi peta mental (mental map) yang
mewakili persepsi kita mengenai realitas. Bahkan bila dua orang mengalami
peristiwa yang sama, bayangan mental mereka mengenai peristiwa itu tidak akan
identik. Karena persespi anda unik, gagasan yang ingin anda sampaikan berbeda
dengan orang lain. Sebagai pengirim, anda memilih rincian yang tampaknya
penting bagi anda, yaitu proses yang dikenal sebagai persepsi selektif. Sebagai
penerima, anda mencoba menyesuaikan rincian baru kedalam pola yang sudah ada
dalam diri anda.
Gangguan
Komunikasi
Menurut Locker (2000), ada 2 gangguan dalam berkomunikasi,
yaitu:
Gangguan Emosional. Anda akan sulit menyusun pesan jika anda sedang kecewa, marah, atau takut.hal inilah yang menyebabkan gagasan dan perasaan sering membuat kita sulit bersikap objektif. Gangguan Fisik. Hambatan komunikasi sering kali bersifat fisik: hubungan yang buruk ,akustik yang jelek, dan tulisan yang tak dapat dibaca. Walaupun gangguan jenis ini tampaknya kecil, namun hal ini dapat menghambat pesan yang sebenarnya efektif.
Gangguan Emosional. Anda akan sulit menyusun pesan jika anda sedang kecewa, marah, atau takut.hal inilah yang menyebabkan gagasan dan perasaan sering membuat kita sulit bersikap objektif. Gangguan Fisik. Hambatan komunikasi sering kali bersifat fisik: hubungan yang buruk ,akustik yang jelek, dan tulisan yang tak dapat dibaca. Walaupun gangguan jenis ini tampaknya kecil, namun hal ini dapat menghambat pesan yang sebenarnya efektif.
Overload
Informasi
Komunikasi bisnis sering terganggun karena materinya rumit
dan kontroversial. Jumlah pesan bisnis yang disampaikan semakin hari
semakin banyak dan peluang untuk terjadinya umpan balik sering terbatas,
sehingga sulit untuk meluruskan salah pengertian ketika hal itu terjadi. Dengan
memahami berbagai hambatan komunikasi yang ada dalam organisasi, peluang untuk
mengatasinya akan meningkat.
Penyaringan yang Tidak Tepat Menyaring adalah membuang atau menyingkat informasi sebelum pesan itu diteruskan kepada orang lain. Namun apabila hal tersebut mempengaruhi jumlah dan mutu informasi yang diteruskan, tentu akan mempengaruhi komunikasi efektif yang diharapkan. Dalam bisnis, banyak saingan antara anda dan penerima, sekretaris, asisten, mesin penjawab, dan voice-mail.
Pengertian Komunikasi Interpersonal efektif dalam organisasi
Penyaringan yang Tidak Tepat Menyaring adalah membuang atau menyingkat informasi sebelum pesan itu diteruskan kepada orang lain. Namun apabila hal tersebut mempengaruhi jumlah dan mutu informasi yang diteruskan, tentu akan mempengaruhi komunikasi efektif yang diharapkan. Dalam bisnis, banyak saingan antara anda dan penerima, sekretaris, asisten, mesin penjawab, dan voice-mail.
Pengertian Komunikasi Interpersonal efektif dalam organisasi
Komunikasi interpersonal dapat dikatakan efektif apabila
pesan diterima dan dimengerti sebagaimana dimaksud oleh pengirim pesan, pesan
ditindalanjuti dengan sebuah pembuatan secara sukarela oleh penerima pesan,
dapat meningkatkan kualitas hubungan antar pribadi, dan tidak ada hambatan akan
hal itu. Komunikasi interpersonal efektif adalah komunikasi yang terkandung
dalam tatao muka dan slaing mempengaruhi, mendengarkan, menyampaikan
pernyataan, keterbukaan, kepekaan yang merupakan cara paling efektif dalam
mengubah sikap, pendapat dan perilaku seseorang dengan efek umpan balik secara
langsung.
Adapun komunikasi efektif dalam organisasi mencakup dua jenis, yakni:
Componential
Menjelaskan komunikasi antar pribadi denganmengamati komponen-komponen utamanya, dalam hal ini adalah penyampaian pesan oleh satu orang dan penerimaan pesan oleh orang lain dengan berbagai dampaknya dan dengan peluang untuk memberikan umpan balik dengan segera.
Adapun komunikasi efektif dalam organisasi mencakup dua jenis, yakni:
Componential
Menjelaskan komunikasi antar pribadi denganmengamati komponen-komponen utamanya, dalam hal ini adalah penyampaian pesan oleh satu orang dan penerimaan pesan oleh orang lain dengan berbagai dampaknya dan dengan peluang untuk memberikan umpan balik dengan segera.
Situational
Interaksi tatap muka antara dua orang dengan potensi umpan
balik langsung dengan situasi yang mendukung di sekitarnya.
Model
Pengolahan Informasi dalam Komunikasi
Model ini berdasarkan teori belajar kognitif (Piaget) dan
berorientasi pada kemampuan seseorang dalam memproses informasi untuk
memperbaiki kemmapuannya. Pengolahan informasi mengacu kepada cara orang
menangani rangsangandari lingkungan, mengorganisasi data, mengembangkan konsep
dan memecahkan masalah, serta mengunakan lambang verbal dan non verbal.
Model pengolahan informasi mencakup empat jenis, yaitu:
Rational
Model ini berasumsi bahwa orang beroperasi dalam model pengolahan dikontrol menggunakan prosedur analitis.
Model ini berasumsi bahwa orang beroperasi dalam model pengolahan dikontrol menggunakan prosedur analitis.
Limited
Capacity
Model ini menunjukkan bagaimana orang menyederhanakan
pengolahan informasi.
Expert
Expert
Model ini bergantung pada model limited capacity.
Cybernetic
Model ini berpendapat bahwa informasi diproses dari waktu
ke waktu.
Model
Interaktif Manajemen dalam Komunikasi Model interaktif manajemen mencakup lima jenis, yaitu:
Confidence
Dalam manajemen, timbulnya suatu interkasi karena adanya rasa nyaman. Kenyamanan tersebut dapat membuat suatu organisasi bertahan lama dan menimbulkan suatu kepercayaan dan pengertian.
Dalam manajemen, timbulnya suatu interkasi karena adanya rasa nyaman. Kenyamanan tersebut dapat membuat suatu organisasi bertahan lama dan menimbulkan suatu kepercayaan dan pengertian.
Immediacy
Model organisasi yang membuat suatu organisasi tersbeut menjadi segar dan tidak membosankan.
Model organisasi yang membuat suatu organisasi tersbeut menjadi segar dan tidak membosankan.
Interaction Management
Adanya berbagai interaksi dalam manajemen, seperti
mendengarkan dan juga menjelaskan kepada berbagai pihak yang bersangkutan.
Expressiveness
Mengembangkan suatu komitmen dalam suatu organisasi dengan berbagai macam ekspresi perilaku.
Mengembangkan suatu komitmen dalam suatu organisasi dengan berbagai macam ekspresi perilaku.
Other
Orientation
Adanya komunikasi antara komunikasi dengan satu pihak ke
pihak lain, sebagai tukar menukar informasi.
Daftar Pustaka
Pearce, John A., Robinson. 2008. Manajemen Strategis.
Jakarta: Penerbit Salemba
Empat
Umar, Husein. 2005. Riset Sumber Daya Manusia. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama
Zainul, Zen. 2007. Kekuatan Metode Lafidzi. Jakarta: Qultum Media
Duha, Timotius. 2014. Perilaku Organisasi. Yogyakarta: Deepublish
Martono, M. 1994. Konflik di Tempat Kerja. Yogyakarta: Kanisius
Nugroho, Wahjudi. 2009. Komunikasi Dalam Keperawatan Gerontik. Jakarta:
Umar, Husein. 2005. Riset Sumber Daya Manusia. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama
Zainul, Zen. 2007. Kekuatan Metode Lafidzi. Jakarta: Qultum Media
Duha, Timotius. 2014. Perilaku Organisasi. Yogyakarta: Deepublish
Martono, M. 1994. Konflik di Tempat Kerja. Yogyakarta: Kanisius
Nugroho, Wahjudi. 2009. Komunikasi Dalam Keperawatan Gerontik. Jakarta:
EGC
Suprapto, Tommy. 2009. Pengantar Teori Dan Manajemen Komunikasi. Yogyakarta: Med Press
Suprapto, Tommy. 2009. Pengantar Teori Dan Manajemen Komunikasi. Yogyakarta: Med Press
Sukoco, Badri M. 2007. Manajemen Administrasi Perkantoran
Modern. Jakarta: Erlangga
Tidak ada komentar:
Posting Komentar